"Islam Nusantara harus dipromosikan sebagai sumbangan muslim Indonesia kepada tatanan dunia yang lebih damai dan harmonis," ujar Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Belanda Fachrizal Afandi kepada detikcom Den Haag, Selasa (31/1/2017) malam.
Menurut kandidat doktor di Universitas Leiden ini, Islam Nusantara harus menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia dalam rangka menghilangkan islamofobia di dunia Barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penguatan ini termasuk di negara-negara dengan tradisi demokrasi dan hak-hak sipil yang kuat, seperti di Amerika Utara, yakni kebijakan Presiden Trump mencegah warga negara dari tujuh negara muslim masuk ke wilayah AS, pembakaran masjid di Texas, dan penembakan jemaah yang sedang salat di sebuah masjid di Quebec, Kanada.
Seperti ditunjukkan oleh tiga peristiwa tersebut, populisme berbasis sentimen primordial telah berimbas pada menguatnya sikap intoleransi pada kelompok minoritas dan tindakan permusuhan terhadap para migran.
Sayangnya, gejala semacam ini sekarang juga mulai merebak di Tanah Air. Hal ini, menurut Katib Syuriah PCI NU Belanda M Shohibuddin, harus menjadi bahan refleksi dan pemikiran ulang bagi umat Islam di Indonesia, khususnya kalangan nahdliyin.
"Kami sangat menyesalkan aksi intoleran dan kekerasan bermotif sentimen primordialisme di berbagai belahan dunia. PCI NU Belanda menyikapi serius kejadian semacam ini," tegas Shohibuddin.
Untuk itu, pihaknya kini sedang merancang rangkaian kegiatan untuk mempromosikan Islam Nusantara sebagai Islam yang moderat di Indonesia sebagai salah satu bentuk diplomasi budaya Indonesia di ajang internasional.
Rangkaian kegiatan itu antara lain konferensi internasional dan pameran foto dengan tema "Rethinking Indonesia's 'Islam Nusantara': From Local Relevance to Global Significance" bekerja sama dengan Kemenag RI dan Vrije Universiteit Amsterdam pada 27 Maret 2017.
Selanjutnya Konfercab PCI NU Belanda bertempat di Masjid Al-Hikmah, Den Haag. Dalam forum Konfercab ini juga akan dilakukan bahtsul masail untuk menjawab masalah-masalah keagamaan di kalangan muslim Belanda pada 28 Maret 2017.
Kemudian pemutaran dan diskusi film 'Jalan Dakwah Pesantren' di Universitas Leiden. Sebagai penutup rangkaian Konfercab ini adalah Gala Dinner dan Malam Kebudayaan di KBRI Den Haag pada 29 Maret 2017.
Acara di KBRI Den Haag ini menghadirkan enam duta besar Indonesia berlatar belakang santri yang bertugas di berbagai negara. Mereka akan menyampaikan pidato kebudayaan dengan penekanan pada bagaimana mempromosikan Islam Nusantara sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia di negara mereka bertugas.
Halaman 2 dari 2











































