"Ini tidak ramah anak (lokasi Panti Asuhan Tunas Bangsa). Tempat ini cocoknya seperti tong sampah," kata Kak Seto saat mengunjungi Panti Tunas Bangsa, di Jl Singgalang V, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru, Selasa (31/1/2017).
Lokasi panti asuhan ini sudah disegel pihak kepolisian. Kak Seto hanya bisa mengintip rumah tersebut. Sangat jelas sekali, kondisi tempat asuh anak itu sangat jorok. Sampah berserakan serta jadi tempat penyimpanan alat-alat pertanian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kesempatan itu, Kak Seto juga mengunjungi panti anak milik Dinas Sosial Pemprov Riau. Lima anak yang dievakuasi pihak kepolisian dari Tunas Bangsa kini dititipkan ke Dinsos Riau. Usia anak yang dievakuasi tersebut 1 sampai 3 tahun.
Kak Seto mengingatkan semua pihak bahwa perlindungan terhadap tempat seperti ini menjadi tanggung jawab bersama. Terutama tempat anak seperti di sekolah atau panti asuhan.
"Untuk memberikan perlindungan anak tidak bisa menjadi tanggung jawab sebuah lembaga saja. Kita harus bersama-sama memberikan perlindungan," katanya.
Dia juga mendukung langkah kepolisian menyelidiki kasus kematian bayi M Zikli (18) yang ada di Tunas Bangsa.
"Kita berharap kasus ini diusut tuntas. Pelakunya harus diganjar hukuman berlapis," ujar Kak Seto.
Dia juga meminta agar warga proaktif bila mendapat kabar adanya penganiayaan terhadap anak. Bila ada pelanggaran atau keteledoran atau kekhilafan para pengasuh, harus segera dilaporkan kepada pihak terkait.
"Saya percaya masih banyak tempat pengasuh anak yang baik-baik," tutur Kak Seto.
Namun dia mengakui, ke depannya, para tenaga kerja tempat pengasuhan anak harus mendapat edukasi dalam mengasuh anak.
"Karena setiap anak tipikalnya beda-beda. Maka petugasnya ke depan harus mendapat pelatihan terlebih dahulu. Sebab, mengurus anak-anak ini butuh kesabaran yang kuat dan ketulusan," tutup Kak Seto. (cha/rvk)











































