Agus mencontohkan banyaknya pemberian nama kebarat-baratan kepada anak-anak di desa. Hal ini, menurutnya, adalah salah satu bentuk pergeseran budaya dan tradisi yang terjadi akibat globalisasi.
"Nah kita perlu program Islam Nusantara untuk menguatkan tradisi ke-NU-an serta melawan globalisasi dengan menghidupkan lagi nuansa itu. Dengan menguatkan tradisi budaya masyarakat, termasuk NU ini, sebagai warisan agama Islam," kata Agus dalam diskusi bertema 'Ngaji Soal Sejarah dan Sinema' pada Harlah Ke-91 PBNU di gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (31/1/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena itu, data dan dokumentasi itu penting. Kalau kita mau klaim suatu benda sejarah, misalnya, kita harus punya datanya, nggak bisa asal klaim. Karena itu, ke depan, di tengah arus teknologi informasi seperti sekarang ini, menurut saya, yang terpenting data," ungkapnya.
Foto: Heldania Ultri Lubis/detikcom |
Diskusi ini juga dihadiri oleh pemerhati keris dan tosan aji dari Sekretariat Nasional Keris Indonesia (SNKI) Donny Satryowibowo. Dalam pemaparannya, Satryo menjelaskan alasan Indonesia tidak memilikinya.
"Aksara itu kan fungsinya untuk mencatat, jadi bangsa yang punya aksara itu biasanya negara yang punya 4 musim, karena mereka perlu mencatat segala macam. Kalau kita nggak perlu begitu, kita nggak punya aksara bukan karena kita bodoh, tapi karena kita memang nggak perlu catat," jelasnya.
Selain itu, Donny menjelaskan soal pembuatan keris yang dinilai tidak dimiliki oleh negara mana pun selain Indonesia. Dalam pembuatan keris, dia menyebut orang Indonesia memiliki materiil terbaik dan sangat menghargai proses.
"Di India, yang buat keris itu perempuan, bikinnya juga cukup sederhana, sangat mudah dan cepat untuk ditempa perempuan. Kalau kita tidak, kita menghargai proses, karena proses itu lebih bagus dari yang instan," tuturnya. (idh/tor)












































Foto: Heldania Ultri Lubis/detikcom