8 Kunci Sukses Pilkada ala Kapolri Tito

8 Kunci Sukses Pilkada ala Kapolri Tito

Audrey Santoso - detikNews
Selasa, 31 Jan 2017 13:09 WIB
8 Kunci Sukses Pilkada ala Kapolri Tito
Foto: Grandyos Zafna/detikcom
Jakarta - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjabarkan delapan kunci suksesnya pesta demokrasi. Delapan kunci kesuksesan itu dipegang delapan unsur negara yang terlibat dalam kegiatan pemilihan umum.

"Pertama, KPU (Komisi Pemilihan Umum) sebagai penyelenggara, yaitu harus netral, program eksekusi, dan melakukan tahapan (pemilu) dengan baik," kata Tito dalam sambutannya di Rapat Koordinasi Pemilihan Kepala Daerah (Rakor Pilkada) Serentak di Ruang Birawa, Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (31/1/2017).

Kunci kesuksesan kedua adalah peran Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) yang juga harus bersikap netral dalam mengawasi sepak terjang masing-masing pasangan calon (paslon) kepala daerah. "Kalau wasit tidak netral, bisa terpicu perpecahan," imbuh dia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kunci ketiga dipegang pasangan calon yang ikut Pilkada. Tito mengatakan para paslon dan pendukungnya harus legowo jika kalah dalam pemilu. Tetapi kenyataannya, banyak yang tidak siap kalah dan menghalalkan segala cara untuk menang.

"Tidak siap kalah, makanya menghalalkan segala cara. Ini kita melihat bagaimana menggiring pasangan calon berkompetisi sehat, tidak kampanye hitam dan menggerakkan massa menjatuhkan pasangan calon lain," lanjut Tito.

Keempat, mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ini berujar pemerintah, sekalipun kader partai, harus bersikap netral dan mengakomodir anggaran yang ditujukan untuk Pilkada dengan baik.

"Kelima, aparat keamanan Polri-TNI, Linmas, juga harus netral, ini posisi penting. Saya kira di negara ini, yang cukup jelas (aparat) tidak memiliki hak memilih, karena itu netralitasnya dapat dijaga karena mereka tidak memilih," ujar Tito.

Media massa disebut sebagai kunci kesuksesan pemilu yang keenam karena memiliki fungsi menyebarluaskan berita. Tito berharap pers dapat memproduksi produk jurnalistik yang menyejukkan suasana pemilu. Menyoal media sosial yang kerap menyebarkan berita bohong, Tito mengaku telah mengerahkan Tim Siber Polri.

"Kita tahu good news is bad news, tapi sebaliknya bad is good. Potensi paling rawan adalah potensi konflik. Lebih gawat lagi media sosial tidak jelas siapa pemiliknya, konten viral cepat menyebarnya. Karenanya, ada pasukan cyber untuk menangani ini," terang Tito.

Selanjutnya, kunci ketujuh dipegang tokoh masyarakat dan tokoh agama. Tito mengatakan kepolisian telah memetakan dan merangkul tokoh-tokoh yang berpengaruh di masyarakat. "Jangan sampai ada pernyataan provokasi." ujarnya.

Kedelapan, selain Panwaslu, Tito merasa perlunya partisipasi pengawas independen agar hasil evaluasi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dapat disandingkan dengan pengawas independen.

"Sehingga hasilnya ada perbandingan, sehingga hasilnya kredibel," tutup Tito.

Selain itu, Tito menyoroti pentingnya proses 'pendinginan' situasi pascapemilu. Sebab, berdasarkan yang sudah-sudah, kerap terjadi gerakan protes massa dari pasangan calon kepala daerah yang kalah.

"Kita pemilu fokus, kita lupa mendinginkan pascapemilu. Banyak kejadian, keributan, terjadi pascapemilu," ujar Tito.

Tito menyarankan dilakukannya strategi pendekatan ke masing-masing kandidat kepala daerah saat KPU melakukan hitung cepat dan sebelum mengumumkan pemenang.

'Karena itu, pascapemilu, setelah pengumuman dan penghitungan kemudian pengumuman, dilakukan pendekatan ke paslon sebelumnya. Pendekatan intens dilakukan sebelum pengumuman," kata Tito.

Tito juga meminta paslon yang menang tidak mengekspresikan euforia kemenangannya dengan berlebihan. (aud/idh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads