Harlah Ke-91, PBNU Gelar Diskusi soal Sejarah dan Sinema

Harlah Ke-91, PBNU Gelar Diskusi soal Sejarah dan Sinema

Cici Marlina Rahayu - detikNews
Senin, 30 Jan 2017 15:12 WIB
Harlah Ke-91, PBNU Gelar Diskusi soal Sejarah dan Sinema
Diskusi harlah ke-91 PBNU. (Cici Marlina Rahayu/detikcom)
Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengadakan serangkaian acara dalam hari lahir ke-91, salah satunya diskusi bertema 'Ngaji Soal Sejarah dan Sinema'. Salah satu hal yang dibahas adalah peran wayang hingga film dalam perkembangan Islam di Indonesia.

Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama (Lesbumi) PBNU Agus Sunyoto mengatakan wayang sudah digunakan sebagai media penyebaran agama Islam ketika sebagian besar masyarakat zaman dulu buta huruf. Tradisi itu diteruskan hingga kini.

"Wayang itu mempengaruhi keanekaragaman Islam. Dulu mengenalkan Islam itu lewat wayang, sehingga masyarakat kenal tokoh-tokoh," kata Agus dalam diskusi yang diadakan di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya Nomor 164, Jakarta Pusat, Senin (30/1/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agus menuturkan Islam berkembang di Indonesia tanpa meninggalkan unsur-unsur lokal. Tradisi lokal itu juga tetap bertahan meski Indonesia kala itu dijajah.

"Walaupun dijajah Belanda, kita tetap bertahan, tidak menjadi kebelanda-belandaan," ungkapnya.

Diskusi ini juga dihadiri oleh Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid serta penulis Seno Gumira Ajidarma dan produser Tino Saroengallo. Dalam pemaparannya, Hilmar mengatakan saat ini banyak orang berpotensi membuat film. Namun siklus itu baru lengkap jika filmnya ditonton.

Hilmar menuturkan kebijakan soal film saat ini banyak turunannya. Para pembuat film diminta tak perlu kebijakan untuk berkarya.

"Kalau mau menunggu kebijakan selesai, pasti terlambat, untuk mulai fokus pada isu tertentu," ucap Hilmar. (imk/erd)


Berita Terkait