Perayaan itu dihadiri Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua DPR Setya Novanto, Ketua DPD M Saleh, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Selain itu, putri mantan Presiden Gusdur, Yenny Wahid juga hadir di tengah-tengah peserta.
"Negara Indonesia bukan negara agama, bukan negara sekuler. Tapi Indonesia adalah negara yang agamis," kata Gatot dalam sambutannya di acara tersebut, Jumat (27/1/2017) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menyedihkan banyak orang sok membuat negara, sedangkan pendiri negara saja tidak seperti itu. Ini yang harus sama-sama kita ingatkan," tutur Gatot.
Di depan para ketua dewan, Gatot sempat menyinggung soal aturan beragama itu. Terutama di tengah atmosfer pilkada saat ini.
"Ketua semua, harusnya ada undang-undang yang katakan dalam kampanye nggak boleh menjelek-jelekkan agama atau orang agama. Ini saya membawa pesan 4 pilar," candanya sambil melirik ketua MPR Zulkifli Hasan.
Pernyataan Gatot itu sontak membuat peserta perayaan tertawa dan bertepuk tangan. Sementara Kapolri Tito kembali mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara yang lahir lewat keberagaman.
"Negara ini dibangun di atas keberagaman. Kemarin ada insiden misalnya ada sweeping di Solo, kita tangkap. Lakukan penegakan hukum," cerita Tito.
"Ada jaminan untuk beribadah umat beragama dan itu diatur dalam UU. Ada ormas mengatasnamakan agama. Kita tindak," sambungnya.
Tito juga menyoroti Pilkada serentak yang semakin dekat waktunya. Dia mengimbau seluruh pihak untuk menjaga suasana tetal kondusif.
"(Antusiasme masyarakat) sah-sah saja, tapi dari sudut keamanan ini kerawanan. Panglima dan polri akan bekerja keras untuk mengamankan semua agenda ini. Mohon bantuan DPR, MPR. Kita amankan dan membuktikan NKRI tetap tegak berdiri dengan panji Kebhinekaan Tunggal Ika," papar Tito.
Sementara Yenny Wahid yang hadir mengenakan jilbab pink mengaku bingung dirinya mewakili siapa dalam acara itu. Candaan Yenny itu kembali disambut tawa peserta.
"Kira-kira saya di sini karena anaknya pak Gusdur. Tahu dirilah saya. Mohon maaf lancang, akibat bapaknya beken jadi gini," canda Yenny.
Panglima TNI dan sejumlah tokoh menghadiri acara Natal dan Tahun Baru di Kompleks Parlemen Foto: Perayaan Natal di Kompleks Parlemen (Kartika-detik) |
Namun dia mengaku dirinya mewakili suara mayoritas masyarakat beragama muslim di Indonesia. Menurutnya, Islam tidak pernah mengajarkan untuk bertindak intoleran.
"Islam umat yang toleran dan memberikan ruang, ibadah saudaranya masing-masing. Sekarang ini ada kelompok mengatasnamakan agama, (mereka) bukan perwakilan islam. Kecil, minoritas tapi berisik. Jadi dikenal karena berisiknya aja," kata Yenny.
"Janji kemerdekaan, kedaulatan, kemakmuran dan janji keadilan, tidak hanya pada satu kelompok mayoritas saja, tapi untuk semua masyarakat Indonesia," imbuhnya.
Di tengah acara itu, ketua panitia perayaan natal Maruar Sirait memberikan batu sebagai simbolisasi permintaan dirinya dan peserta lain untuk disediakan rumah ibadah untuk semua umat beragama di komplek parlemen. Batu itu diserahkan secara simbolis kepada ketua DPR, MPR dan DPR.
Penyerahan batu sebagai simbolisasi permintaan peserta untuk disediakan rumah ibadah untuk semua umat beragama di komplek parlemen. Foto: Kartika Sari Tarigan/detikcom |












































Panglima TNI dan sejumlah tokoh menghadiri acara Natal dan Tahun Baru di Kompleks Parlemen Foto: Perayaan Natal di Kompleks Parlemen (Kartika-detik)
Penyerahan batu sebagai simbolisasi permintaan peserta untuk disediakan rumah ibadah untuk semua umat beragama di komplek parlemen. Foto: Kartika Sari Tarigan/detikcom