"Hari ini tidak ada kata lain selain bersyukur bahwa sebagai anak bangsa kita dilindungi undang-undang apa pun agama kita, apa pun suku kita, apa pun masyarakat kita," kata Rano Karno di depan warga Tigaraksa, Tangerang, Jumat (27/1/2017).
Hal itu disampaikan Rano usai mendapatkan dukungan dari masyarakat Flores di Tigaraksa, Tangerang. Sebagai warga perantauan, mereka meminta agar para pendatang ini diperhatikan dan dilindungi. Selama ini mereka hidup dalam kerukunan, meski pun berbeda agama dan suku, mereka tidak saling membenci selama ini.
Namun, menurut Rano belakangan bangsa ini sedang diuji oleh kepentingan sesaat. Lewat isu-isu yang dilepas oleh penantangnya dihembuskanlah bahwa partai pengusungnya adalah partai komunis. Rano dituduh putra dari seorang PKI. Bahkan, warga Banten saja menurutnya pernah dituding oleh mereka sebagai warga yang bodoh jika tidak memilih Wahidin-Andika.
"Sangat bias isu yang dilepaskan oleh mereka (Wahidin-Andika). Ini menyakitkan hati kita seakan-akan Pilkada hanya sebuah kepentingan. Bahkan ada statemen beliau (Wahidin) yang sangat menyakitkan hati. Dia katakan apabila masyarakat Banten tidak memilih mereka adalah orang yang bodoh," katanya.
Rano mengatakan tidak ada yang perlu ditakuti dengan adanya perbedaan. Negara melindungi keberagaman. Setiap tahun warga Banten menurutnya mensyukuri perbedaan. Mulai dari Imlek, Natal, tahun baru, dan hari raya Idul Fitri.
"Saya sampaikan hari ini bahwa kekuatan itu harus kita lawan dengan kecintaan kepada bangsa," katanya. (bri/dhn)











































