Mayoritas dari mereka mengenakan baju berwarna merah, senada dengan warna yang ada di dalam vihara. Asap dan aroma hio dapat dirasakan ketika masuk ke dalam bangunan. Begitu pula lilin-lilin besar yang disusun rapi di pelataran vihara.
Umat Buddha yang datang beribadah, dengan hio di tangan memanjatkan doa di penghujung malam pergantian tahun. Aprianto Bismoko selaku Humas Vihara Bahtera Bhakti mengatakan, ini adalah momen bersyukur kepada tuhan dan orang tua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Malam Tahun Baru Imlek di Vihara Tertua (Jabbar Ramdhani/detikcom) |
"Setiap tahun baru, leluhur kita panggil ke rumah ibadah, kita doakan. Ini juga tanda syukur kita kepada orang tua dan orang lain," sambungnya.
Di dalam vihara ini terdapat Altar Buddha, Altar Dewi Kwan Im, Altar Sam Po Soei Soe dan altar lainnya. Apri mengatakan kegiatan ibadah ini akan berlangsung hingga esok malam.
Untuk mendukung kegiatan ini, petugas vihara mendapat dukungan tambahan dari sebanyak 30 orang. Mereka telah mempersiapkan tempat untuk ibadah ini sejak setengah bulan yang lalu.
"Banyak yang kita fasilitasi seperti tempat lilin yang tersusun rapi. Terus tempat ibadah kita bersihkan, kita cat. Sekarang terlihat dengan indahnya. Dari segi keamanan juga kita siapkan baik dari intern, maupun dari unsur polisi, TNI dan Satpol PP," ujar Aprianto.
Aprianto sempat menceritakan sejarah singkat vihara ini. Menurutnya, bangunan yang juga bernama Klenteng Ancol ini dibangun saat kedatangan Laksmana Cheng Ho.
"Kalau menurut sejarah dibangunnya pada 1425 masehi. Bersamaan dengan kedatangan Cheng Ho. Sam Po Soei Soe adalah anak buah dari Laksamana Cheng Ho. Dengan kedatangan beliau, berdiri lah wihara ini," cerkatanya.
Apri menambahkan, vihara ini sempat ditinggalkan karena adanya wabah penyakit. Lalu vihara ini ditemukan oleh dua orang sejarawan Belanda pada tahun 1650.
Berumur hampir 600 tahun, Aprianto mengatakan perawatan yang dilakukan cukup merepotkan. Meski sudah masuk sebagai salah satu cagar budaya sejak 1972, perhatian pemerintah dianggap kurang.
"Kita sering kebanjiran. Kalau kita tinggikan kan tidak mungkin. Kita sudah masuk ke cagar budaya dari 1972. Hanya saja perhatian yang diberikan masih secara seremonial. Untuk lainnya masih ada donatur-donatur yang masih memberikan kontribusinya," ujarnya.
Apri mengatakan sudah ada banyak bagian bangunan yang dipugar. Hal ini dilakukan untuk menampung ibadah umat.
"Vihara ini sudah ada yang dipugar. Agar dapat menampung lebih banyak banyak menampung umat. Yang masih asli ini Altar Sam Po Soei Soe. Kita masih tetap pertahankan yang asli masih ada 50-60 persen," tuturnya.
Selain ibadah Umat Buddha, di dalam vihara ini juga ada penampilkan dua barongsai singa. Kehadiran mereka memeriahkan malam Imlek di Vihara Bahtera Bhakti ini.
(jbr/dnu)











































Malam Tahun Baru Imlek di Vihara Tertua (Jabbar Ramdhani/detikcom)