Penghargaan itu diserahkan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan pendiri MURI Jaya Suprana. Penghargaan itu berjudul 'Pejabat yang Sholat Berjamaah Secara Berkesinambungan di Masjid Terbanyak'.
"Kalau 212 di lokasi satu, Monas. Ini masjidnya yang banyak," kata Jaya Suprana sebelum memberikan penghargaan di galeri MURI di Kawasan Industri Jamu Jago, Semarang, Jumat (27/1/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya hanya melakukan aktivitas wajib kita sebagai umat Islam untuk berjemaah, saya di kampung-kampung, ke masjid-masjid, Musala di Kota Semarang sambil berinteraksi, mendengarkan warga punya ide gagasan apa. Ternyata dicatat sama MURI, terima kasih," ujar Hendi.
Sampai saat ini setidaknya sudah 314 masjid dan musala yang pernah disinggahi Hendi untuk salat berjemaah bersama warga di Kota Semarang. Kegiatan tersebut akan terus berlanjut karena di Kota Semarang ada 1.186 masjid dan 1.966 musala.
"Ini tentu saja sebuah hal yang positif bagi kami, harapannya kegiatan roadshow masjid dan musala yang telah dilakukan dapat lebih membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya shalat berjemaah. Tentunya kegiatan ini tidak akan hanya berhenti pada 314 masjid dan musala saja," pungkasnya.
Untuk diketahui, selain Hendi, ada penerima penghargaan lain yang hadir dalam rangkaian acara peresmian galeri MURI di Kawasan Industri Jamu Jago, Semarang dan ulang tahun MURI ke-27.
Mereka adalah Kodam IV/Diponegoro yang mendapatkan penghargaan 'Kodam yang Melaksanakan Bakti Sosial Operasi Katarak dengan Pasien Terbanyak'. Penghargaan lainnya diberikan kepada bocah berusia 11 tahun bernama Bians Tjipto Meidianto sebagai 'Penulis Buku Origami Termuda'.
Berikutnya ada penghargaan untuk masyarakat Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, dengan judul penghargaan 'Deklarasi Kota Ramah Anak dengan Bergandengan Tangan Sejajar Terpanjang, 7.359 Meter, 7.366 Orang'.
Selain itu, ada dua orang yang menerima penghargaan Prestasi Nusantara, yaitu Samuel A. Budiono sebagai komponis pertama yang memadukan unsur musik dan arsitektur. Kemudian Rony Sudarmawan Theryo sebagai penyusun buku pertama tentang Mould & Dies. (alg/ega)










































