PMI: Nias Masih Porak Poranda

PMI: Nias Masih Porak Poranda

- detikNews
Kamis, 14 Apr 2005 03:58 WIB
Jakarta - Palang Merah Indonesia (PMI) menyebutkan kondisi Nias dan sekitarnya masih porak-poranda. Jalur darat rusak parah, aspal jalan pecah, dan banyak badan jalan longsor.Kondisi itu terjadi meski masa tanggap darurat bencana Nias tahap I telah berakhir pada 11 April 2005 dan kini memasuki upaya tanggap darurat tahap II."Kondisi jalur darat dari Gunung Sitoli ke Nias Tengah dan Nias Selatan masih rusak parah, aspal jalan pecah-pecah, dan bahkan di beberapa lokasi banyak badan jalan longsor," sebut PMI dalam pernyataan tertulisnya kepada detikcom, Rabu (13/4/2005).Dari pemantauan Tim Assessment PMI, kendati jalan-jalan tersebut bisa dilalui sepeda motor dan kendaraan roda empat ukuran kecil, jalur darat menuju Nias Tengah dan Nias Selatan masih sangat rawan untuk dilalui truk pengangkut bahan makanan atau bantuan lainnya. Apalagi untuk mengangkut alat berat."Di sana-sini banyak terlihat reruntuhan bangunan yang memenuhi badan jalan. Kerusakan parah juga terjadi di Kecamatan Mandrehe. Bahkan kerusakan parah juga terjadi di wilayah Tetesua pesisir pantai barat Nias," sebut PMI.Di tengah situasi dan kondisi yang sulit tersebut, 91 relawan Satgana dan tim medis PMI terus berupaya melakukan berbagai upaya kemanusiaan. Distribusi bantuan kemanusiaan berupa bahan pangan, perlengkapan logistik, dan obat-obatan diangkut dengan helikopter bantuan Palang Merah Belanda ke wilayah Kecamatan Gunung Sitoli, Desa Onozikho, Desa Lolomboli, dan Lolomoyo.Melihat antusiasme dan ekspektasi masyarakat yang begitu besar terhadap bantuan yang datang, PMI melakukan mekanisme yang berbeda untuk pendistribusian bantuan tersebut. Satu hari sebelum pendistribusian dilakukan, PMI mengadakan musyawarah dengan kepala desa setempat dan membentuk kepanitiaan yang semua anggotanya adalah masyarakat yang bersangkutan. Satu atau dua relawan Satgana hanya memantau. Hingga kini PMI telah mendistribusikan bantuan kepada 637 KK."Kegiatan evakuasi PMI dilakukan secara on call, mengingat kondisi lapangan tidak memungkinkan dijangkau secara normal. Jumlah korban tewas yang telah dievakuasi Tim Satgana saat ini berjumlah 51 orang," papar PMI.Untuk pelayanan kesehatan, sebanyak 26 orang tenaga medis yang terdiri dari 5 dokter dan 21 paramedis telah dimoblisasi ke Gunung Sitoli yakni Pendopo di Lapangan Merdeka dan SMUN 1, serta Teluk Dalam yakni kesehatan keliling di Ladara, Kilidoko, dan Siramali-Kecamatan Gikko.Mereka juga menerima panggilan dari para korban yang memerlukan penanganan darurat. Untuk mendukung penanganan darurat ini, PMI telah menurunkan 3 unit ambulans di Teluk Dalam, Gunung Sitoli, dan Tabulala."Hingga kini pos kesehatan telah melayani 3.964 pasien. Penyakit yang umum diderita adalah ISPA, chepalgia, post trauma stress dysorder, patah tulang, dan luka-luka," sebut PMI.Untuk membantu koran gempa yang kesulitan air bersih, sejak 11 April 2005, relawan bidang water and sanitation (watsan) yang bertugas di Meulaboh dikirim ke Gunung Sitoli untuk membuka layanan air bersih bersama dengan Palang Merah Spanyol dan Prancis. Dengan mengambil sumber air dari sungai di Gunung Sitoli, pada hari pertama sebanyak 20.000 liter telah dihasilkan, dan hingga kini meningkat menjadi 42.000 liter air per hari. (sss/)


Berita Terkait