"Imlek itu kan budaya, bukan harus acara ritual. Jadi nggak ada salahnya saya sebagai muslim merayakan Imlek karena budaya leluhur, mengenang leluhur. Cara mengenang leluhur bukan berarti harus angkat-angkat hio," tutur Ketua Komunitas Muslim Tionghoa Indonesia (Musti) Muhammad Jusuf Hamka saat berbincang dengan detikcom, Rabu (25/1/2017).
Jusuf Hamka merupakan seorang mualaf yang kemudian diangkat anak oleh Buya Hamka. Pada akhir tahun lalu, melalui Musti, Jusuf memberikan penghargaan kepada imam besar FPI Habib Rizieq Syihab sebagai Man of the Year 2016.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang Islam pun mendoakan orang tuanya, Islam tidak membenarkan karena orang tuanya beda agama lalu tidak mendoakannya. Islam itu sangat bijaksana," imbuh Jusuf.
Komunitas Musti, kata Jusuf, juga sering berbagi angpao saat Imlek. Angpao merupakan salah satu tradisi membagikan uang kepada anak-anak dan orang yang belum menikah.
"Berbagi angpao kalau dalam Islam itu sedekah, itu bukan ritual dalam Imlek. Berbagi sedekah itu kan lebih baik. Kalau dulu (berbagi angpao) ke sesama Tionghoa, kalau sekarang bisa ke siapa saja," kata Jusuf.
Imlek, menurut Jusuf, tak jauh berbeda dengan Lebaran di Indonesia. Masyarakat Tionghoa saling bersilaturahmi, terutama yang lebih muda ke yang lebih tua.
Jusuf biasanya diundang kakak-kakaknya untuk merayakan Imlek. Tetapi dia selalu memastikan makanan yang dihidangkan bisa disantapnya.
"Pas ditelepon, saya tanya dulu, 'Makanannya halal nggak?', biasanya sih memang mereka pisahkan antara yang haram dengan yang halal. Jadi saya tetap bisa makan," kata Jusuf.
Menurut Jusuf, kehidupan bermasyarakat akan indah jika mengedepankan toleransi. Suasana Imlek bisa menjadi ajang untuk mempererat silaturahmi, bagi Jusuf. (bag/van)











































