Proses akulturasi dan asimilasi budaya terjadi secara alami di tengah masyarakat Solo. Asam garam hubungan antara warga pribumi Jawa dan etnis Tionghoa telah menjadi pengalaman dan bekal bersama untuk memulai kehidupan harmonis yang membaur.
Baca Juga: Masakan Cina Bukan Hanya Milik Tionghoa
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sudiroprajan, tepatnya di Kampung Balong, merupakan kawasan warga etnis Tionghoa pertama di Solo. Mereka telah tinggal di kawasan tersebut tak lama setelah perpindahan Kerajaan Mataram dari Kartasura ke Surakarta pada tahun 1745.
Foto: Muchus Budi R/detikcom |
Mereka beranak-pinak dan berinteraksi dengan warga kampung di sekitarnya yang dihuni pribumi Jawa. Mereka hidup berdampingan dan mengembangkan toleransi secara alami, tanpa rekayasa atau paksaan. Kerukunan bersama itu tercipta karena kesadaran bahwa sebagai sebuah komunitas masyarakat, mereka saling membutuhkan. Tak sedikit dari mereka yang kemudian melakukan perkawinan campur sehingga lahir keluarga-keluarga multietnis dan multibudaya dengan berbagai latar keyakinan yang dipeluk oleh masing-masing pribadinya.
"Sebetulnya saat ini sudah sulit mencari Tionghoa totok di kalangan kami. Hampir sebagian besar dari kami sudah merupakan keturunan campuran, hasil dari kawin-mawin lintas etnis. Saya sendiri ini sudah kategori babah, seorang dari etnis Tionghoa keturunan campuran dengan Jawa," papar Sumartono Hadinoto, tokoh Tionghoa Solo yang juga menjadi ketua panitia peringatan tahun baru Imlek 2568 atau 2017 Masehi.
Sudiroprajan merupakan kawasan yang patut dijadikan contoh proses akulturasi harmonis yang alami itu. Dari sekitar 4.000 jiwa warganya, warga etnis Jawa hampir berimbang dengan warga dari etnis Tionghoa. Dari kawasan inilah lahir perpaduan dua budaya dalam rangkaian tradisi menyambut Imlek. Di antaranya sedekah bumi Buk Teko, ritual Umbul Mantram, dan Grebeg Sudiro.
"Di Sudiroprajan, persoalan toleransi sudah selesai. Tidak ada sentimen Tionghoa-Jawa. Komunitas Tionghoa paling besar memang di Kampung Balong, namun sebenarnya juga ada kampung-kampung lain di Sudiroprajan, seperti Kampung Mijen, Kepanjen, Samakan, dan di Kampung Sudiroprajan. Semua bisa menyatu harmonis dengan etnis lain. Kalau ada peringatan Imlek begini, semua warga, termasuk yang non-Tionghoa, akan bahu-membahu untuk saling membantu," lanjut Sumartono.
Salah satu akulturasi yang layak dikedepankan sebagai contoh adalah Grebeg Sudiro, yang setiap tahun digelar untuk menyambut tahun baru Imlek di Kelurahan Sudiroprajan. Tradisi grebeg, kita tahu adalah tradisi asli masyarakat Jawa yang digelar untuk menyambut peringatan hari besar. Karena Grebeg Sudiro digelar untuk menyambut Imlek, maka nuansa budaya dan tradisi Tionghoa lebih mendominasi.
Foto: Muchus Budi R/detikcom |
Jika gunungan grebeg biasanya berupa gunungan berisi nasi dan hasil bumi, Grebeg Sudiro adalah karnaval ribuan warga mengarak dua gunungan kue keranjang. Namun kita juga bisa melihat kue-kue tradisional Jawa yang ikut diarak, seperti onde-onde, gembukan, keleman, dan lain-lainnya. Atraksi liong dan barongsai tentu saja memeriahkan acara itu, namun atraksi reog dan tari Topeng Ireng dari lereng Merapi juga dihadirkan.
Pada Grebeg Sudiro (22/1) lalu misalnya, ribuan warga Surakarta mengikuti arak-arakan dari depan Pasar Gede dan Klenteng Tien Kok Sie mengelilingi kawasan Sudiroprajan sejauh sekitar 5 kilometer. Semua berbaur, tak hanya yang Tionghoa, namun juga warga Jawa dan warga Solo dari berbagai etnis lainnya.
Pemkot Surakarta sangat mendukung kegiatan ini. Alasannya jelas, menjaga dan terus memupuk keharmonisan hubungan antarwarga. "Tradisi ini menghilangkan sekat-sekat etnik, sosial, dan budaya. Tidak ada Jawa, tidak ada Tionghoa, semuanya Indonesia dalam bingkai NKRI. Ini tradisi milik kita," tegas Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo.
Tidak hanya grebeg dan ritual, dua pekan menjelang perayaan Imlek, Kota Surakarta juga berhias diri. Tidak kurang dari 5.000 lampu lampion dipasang di kawasan Jalan Sudirman hingga Pasar Gede di Jalan Urip Sumoharjo. Setiap malam ribuan orang tumpah memenuhi ruas jalan itu untuk mandi cahaya, mencuci mata, atau mencatatkan kehadirannya di keramaian dengan berswafoto atau saling mengabadikan gambar bergantian.
Foto: Muchus Budi R/detikcom |
Keramaian dan hiasan lampu juga dipasang di sejumlah klenteng dan Vihara Tri Dharma. Tak cuma itu. Panitia juga melengkapi perayaan dengan menggelar Festival Imlek di Benteng Vastenberg, serta perahu wisata yang bisa membawa pengunjung menyusuri Kali Pepe sejauh 300 meter yang di atasnya berhias ratusan lampu lampion.
Semua menikmati. Semua merayakan. Kekayaan nilai-nilai budaya dan tradisi adalah potret nyata wajah kebinekaan kita. Silakan datang ke Solo. Keramaian aneka ragam kegiatan menyambut tahun baru Imlek di Solo masih akan berlangsung hingga dua pekan mendatang, bersamaan dengan datangnya Cap Go Meh. Nikmati keberagaman sambil belajar menyelami hikmah tenggang rasa dan toleransi.
Halaman 2 dari 3












































Foto: Muchus Budi R/detikcom
Foto: Muchus Budi R/detikcom
Foto: Muchus Budi R/detikcom