"Darurat, Mas, ini sangat darurat," kata Arief saat berbincang dengan detikcom.
Guru besar Universitas Diponegoro, Semarang, itu baru saja mendarat di Bandara Ahmad Yani, Semarang, pada Kamis (26/1) pukul 06.30 WIB. Arief, yang belum tahu operasi tangkap tangan KPK atas Patrialis Akbar, masih menyempatkan makan soto kesukaannya di Semarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah itu, Arief menyempatkan diri menengok rumahnya di Banyumanik. Rencananya, setelah itu ia akan bergegas ke kampus Universitas 17 Agustus (Untag), Semarang, untuk menjadi pembicara kunci/keynote speaker seminar tentang konstitusi dan Pancasila.
Tapi tidak lama setelah itu, telepon Arief tidak berhenti berdering. Bak disambar petir di pagi hari, kabar OTT Patrialis Akbar tersebut membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.
![]() |
"Ya Allah, ampuni saya. Segala cara sudah saya upayakan untuk menjaga lembaga MK," ujar Arief getir.
Tapi Arief masih belum mendapatkan informasi A1. Pihak KPK belum memberi kepastian. Ajudan Patrialis dan HP Patrialis juga tidak bisa dihubungi.
"Kemarin Rabu (25/1), kami sidang sampai magrib. Habis itu kami pulang ke rumah masing-masing. Setelah itu, saya tidak kontak-kontakan lagi dengan Patrialis," tutur Arief lirih.
Serta-merta Arief langsung menelepon seluruh hakim konstitusi. Secepat kilat ia perintahkan untuk berkumpul di kantor. Tak terkecuali Sekjen MK Prof Dr Guntur Hamzah dan seluruh staf yang sedang ada rapat di Pusdiklat Cisarua, Bogor.
Niat Arief untuk menjadi keynote speaker di seminar di Untag juga dibatalkan. Arief memilih bergegas mencari pesawat kembali ke Jakarta. Seminar akhirnya berjalan hanya dengan dihadiri Refly Harun dan Ketua Program Studi Doktor Undip Prof Adji Samekto.
![]() |
"Ya Allah, saya mohon ampun. Saya tidak bisa menjaga MK dengan sebaik-baiknya," kata Arief kepada wartawan setiba di kantor di Jakarta.
Arief mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada bangsa Indonesia. Sebab, sebagai ketua, ia tidak bisa menjaga anggotanya hingga tertangkap KPK.
"Saya mohon ampun kepada Allah," kata Arief tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya yang mendalam.
Arief, yang biasanya berbicara lantang dan tegas dalam memimpin sidang, siang itu menjadi manusia yang hanya bisa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa. Apalagi bila mengingat dua tahun lalu, Ketua MK Akil Mochtar juga ditangkap KPK dengan kasus serupa.
"Saya mohon maaf kepada bangsa ini. MK telah melakukan kesalahan lagi, meski ini personal sehingga lembaga ini tercoreng lagi," tutur Arief.
(asp/fdn)













































