PSI Ajak Masyarakat Lawan Hoax dengan Budaya Membaca

PSI Ajak Masyarakat Lawan Hoax dengan Budaya Membaca

Kanavino Ahmad Risqo - detikNews
Kamis, 26 Jan 2017 19:12 WIB
PSI Ajak Masyarakat Lawan Hoax dengan Budaya Membaca
Foto: Kanavino Ahmad Rizqo/detikcom
Jakarta - Berita hoax kini semakin bertebaran di media sosial. Berita hoax juga tidak jarang menyulut konflik sehingga perlu upaya untuk menangkalnya.

"Yang harus dilakukan negara supaya membuat pendidikan itu bisa berdebat, diskusi supaya lebih kritis orang itu terjaga. Karena kalau nggak ada yang kritis, hoax-hoax itu akan mudah dipercaya," ujar Co-Founder @BeraniPeduli Tsamara Amany, yang menjadi salah satu pembicara dalam diskusi 'Solidaritas Lawan Hoax' yang diselenggarakan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Kantor DPP PSI, di Jl Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Kamis (26/1/2017).

Dengan adanya diskusi dan budaya membaca, kata Tsamara, masyarakat akan semakin berhati-hati dalam memilih berita. Namun pada kenyataannya budaya membaca itu sangat minim digemari oleh masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Umum PSI Grace Natalie kemudian menambahkan, masyarakat lebih percaya dengan pernyataan lisan ketimbang membaca. Terlebih ketika sumber dari informasi adalah orang yang dikenal.

"Budaya membaca itu sangat minim dan orang percaya pada apa yang dia dengar apalagi kalau itu dari orang yang kita percaya," ujar Grace.

Menurut Grace, masyarakat harus dibudayakan untuk rajin membaca. Selain itu, masyarakat pun seharusnya mempunyai kebiasaan untuk kritis dan berdebat sehingga mereka dapat selektif dalan menerima informasi.

"Budaya memang kita tidak rajin membaca dan mudah percaya, itu ya terutama. Tidak punya kebiasaan untuk kritis. Memang itu secara budaya tidak mendukung kesitu sehingga sekarang kita mudah menerima berita tanpa mau meng-counter," ucapnya.

Dampak hoax ini memang sangat meresahkan dan efeknya sangat banyak bagi masyarakat. Oleh karena itu, Grace menyarankan setiap orang untuk selalu cek informasi yang diterimanya supaya tidak menjadi korban berita hoax.

"Budaya untuk selalu mengecek, cek and ricek itu harus ada, tidak mesti dalam bingkai Pilkada, untuk soal apapun apalagi kalau sudah mengancam kebhinekaan kita," ujar Grace. (bag/rvk)


Berita Terkait