"Kami menargetkan setidaknya pasien ini dapat menekuk kaki serta duduk. Untuk upaya ini, kami dari RS dr Moewardi, Solo, berkoordinasi dengan dokter-dokter dari RSO Prof Dr Soeharso," ujar Arif Nurudin, salah satu dokter ahli penyakit dalam dari RS dr Moewardi yang ikut menangani Sulami, Kamis (26/1/2017).
Untuk target tersebut, lanjut Arif, Sulami mendapatkan perawatan intensif selama dirawat di RS dr Moewardi. Salah satu obat yang digunakan adalah biologic agent untuk mengurangi progresivitas penyakit. Dibutuhkan setidaknya enam kali pengobatan dalam kurun waktu dua pekan. Sekali tindakan memerlukan biaya obat Rp 6 juta hingga Rp 8 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kekakuan sendi disebabkan ankylosis spondylitis yang menyerang jaringan ikat pada sendi. Peradangan yang terjadi lama-kelamaan membuat ruas tulang belakang menyatu dan kaku seperti pohon bambu sehingga sering kali diistilahkan bamboo spine. Pasien ini juga mengalami pengerasan pada bagian kulit. Pada dasarnya hingga saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan kelainan itu. Obat-obatan yang dipakai hanya untuk mengurangi efek dan progresivitas saja," lanjutnya.
Sulami (35 tahun) warga Desa Mojokerto, Kedawung, Sragen, Jawa Tengah, diketahui telah menderita kelainan sejak usia 10 tahun. Tubuhnya kaku seperti kayu, hanya leher, pergelangan tangan, dan pergelangan kaki yang bisa digerakkan secara terbatas. Sejak Rabu kemarin, Sulami dibawa ke RS dr Moewardi untuk mendapatkan perawatan khusus terkait penyakitnya itu. (mbr/try)











































