WHO Serukan Lab Dunia Musnahkan Sampel Virus Flu Mematikan
Rabu, 13 Apr 2005 17:46 WIB
Jakarta -
Virus influenza pernah menyebabkan sekitar empat juta nyawa melayang pada kurun waktu 1957-1958 silam. Tak bisa dibayangkan jika virus itu kembali mewabah. Namun ada berita mengkhawatirkan mengenai virus mematikan tersebut.Sampel virus flu Asia itu ternyata dikirimkan ke ribuan laboratorium di seluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia alias WHO pun mengambil langkah pencegahan. Badan kesehatan PBB itu memerintahkan seluruh lab yang menerima sampel virus H2N2 itu agar menghancurkannya."Orang-orang yang lahir setelah 1968 diperkirakan tidak punya atau hanya sedikit kekebalan terhadap H2N2," demikian diingatkan WHO seperti dilansir New Straits Times, Rabu (13/4/2005).Dikatakan WHO, pemerintah AS pada 8 April lalu telah meminta College of American Pathologists (CAP) untuk memerintahkan 3.747 laboratorium di 18 negara yang menerima sampel virus itu agar menghancurkannya.Pesan kedua dikirimkan pada 12 April yang "lebih jauh meminta agar pemusnahan virus H2N2 dikonfirmasikan dan agar setiap kasus penyakit pernafasan di kalangan pekerja laboratorium diselidiki dan diberitahukan kepada otoritas nasional," demikian WHO.Seorang pakar flu terkemuka WHO, Klaus Stohr mengatakan bahwa masalah ini mengkhawatirkan. "Jika kecelakaan laboratorium terjadi, seseorang bisa terinfeksi. Jika itu terjadi, orang itu mungkin akan jatuh sakit dan dia bisa menulari orang lain. Dan itu bisa menandai dimulainya wabah global," tuturnya kepada The Washington Post."Kita bicara mengenai virus influenza manusia yang bisa sangat menular karena mayoritas penduduk tidak punya kekebalan. Kami khawatir," imbuhnya.WHO tidak menyebutkan apakah sampel-sampel virus itu dikirimkan secara disengaja atau tidak. Hanya dikatakan bahwa sampel virus yang beredar itu digunakan untuk keperluan pengujian.Virus tersebut didistribusikan oleh College of American Pathologists ke lab-lab pada Oktober 2004 lalu. Kebanyakan lab yang menerima sampel virus berada di Amerika Serikat, dan hanya 75 lab yang berlokasi di Kanada dan 16 negara lainnya.Masalah ini pertama kali terdeteksi pada 25 Maret lalu oleh Laboratorium Mikrobiologi Nasional Kanada, yang kemudian memberitahukannya kepada WHO dan US Centers for Disease Control and Prevention. Menurut WHO, sejauh ini, belum ada laporan mengenai infeksi di kalangan pekerja lab sehubungan dengan distribusi sampel H2N2 itu. Namun sebagai langkah pencegahan, WHO mendesak agar semua sampel virus maut itu dimusnahkan secepatnya.
(ita/)










































