Gembong Ekstasi Internasional Tewas Ditembus Timah Panas

Gembong Ekstasi Internasional Tewas Ditembus Timah Panas

- detikNews
Rabu, 13 Apr 2005 17:37 WIB
Jakarta - Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil menggerebek pabrik ekstasi berkapasitas 504.000 butir/hari milik Philip Wijayanto (46) alias Hans Philip yang tewas tertembus timah panas saat penggerebekan dilakukan, Jumat, (8/4/2005), lalu.Pabrik yang letaknya terpencil itu berlokasi di Kampung Kandang Sapi, Desa Bangraden, Kecamatan Jasinga, Bogor, Jabar.Hal ini disampaikan Kepala Pelaksana Harian BNN Komjen Pol Sutanto dikantornya, Jl. MT Haryono, Jakarta, Rabu, (14/4/2005). Penemuan sekaligus penggerebekan pabrik itu terjadi sekitar 15.00 WIB. Hans Philip merupakan buronan Satgas BNN sejak 2001.Pabrik ini memiliki kemampuan produksi yang cukup mencengangkan, di mana dalam satu menit setiap mesin mampu menghasilkan 840 butir ekstasi.Dari data yang diperoleh BNN, dalam satu hari pabrik tersebut mampu memproduksi 252.000 butir ekstasi. Padahal, dalam sehari pabrik itu hanya beroperasi selama lima jam kerja. Sehingga dalam satu bulan ekstasi yang dihasilkan mencapai 3.780.000 butir, dan dalam satu tahun 45.360.000. Ini hanya untuk satu mesin, sementara di pabrik tersebut Hans Philip memiliki dua mesin yang sudah beroperasi sejak tahun 2000.Dari pabrik tersebut diperkirakan Hans Philips mampu mendulang omzet lebih dari Rp 12 miliar/hari atau Rp 189 miliar/bulan atau Rp 2,268 triliun setahun. Angka ini dengan asumsi harga ekstasi di pabrik per butirnya Rp 50 ribu. Padahal, di pasaran dijual Rp 100 ribu/butir.Lokasi pabrik ini terletak di pelosok desa yang jauh dari tetangga disekitarnya. Dari jakarta lokasi ini bisa ditempuh dalam dua jam perjalanan setelah melalui jalan setapak yang penuh bebatuan.Luas tanah di lokasi pabrik itu mencapai tiga hektar dan di dalam pabrik terdapat aneka peralatan canggih untuk mengolah bahan-bahan kimia penghasil ekstasi.Selain pabrik tersebut, Hans Philip juga memiliki sebuah gudang penyimpangan bahan-bahan baku ekstasi yang terletak di Kampung Poncol, Desa Bojong Jengkol, Kecamatan Ciampea, Bogor, Jabar.Di gudang penampungan ini, Philip menyimpan 52 drum berisi methylamine sebanyak 10.400 liter. Sejak Oktober 2001, Philip telah menjadi DPO Direktorat Narkoba Mabes Polri.Dalam penggerebekan tersebut juga digulung sindikat Hans Philip, yakni Bartje Bessie (43) yang berperan sebagai pengelola dan peracik, dan Bangkit Satrio (44) sebagai pembantu laboratorium dan sopir.Philip juga dikenal sebagai ahli kimia dan arsitek Clandestine Laboratorium dan perancang seluruh pembuatan ekstasi dipabriknya serta pengatur jaringan sindikat narkoba internasional.Dari penemuan ini, di TKP II (gudang penyimpangan) disita barang bukti berupa PMK (bahan dasar ekstasi), 52 drum methylamine, tiga jeriken besar asam formit dan chloroform, tabung gas HCL, dan lain-lain. Sedangkan di TKP I disita rumah, alat cetak, penguap, penjernih air, kotak frezer, mesin penghancur, alat percetakan logo tablet dan logo AS Roma.Philip merupakan WNI keturunan yang lahir Pintuni, Manokwari Papua pada 21 April 1959. Saat ini, aparat masih terus melakukan pengejaran terhadap sindikat ekstaksi yang masih masuk dalam DPO, yakni Mr Jaap alias Jo, warga negara Belanda sebagai ahli kimia dan arsitek Clandestine Lab, Tomo alias paman -pembantu lab, Harjo alias Hari, pembantu lab, Paul alias Pauli -pembantu (tukang masak kimia di lab), Dion, penjemput dan distributor ekstasi, Atung distributor ke pelanggan, dan John alias Joko pembantu percetakan lab. Saksi yang dimintai keterangan dalam kasus ini adalah Satrio yang beralamat di Kampung Sipak RT 04/04, Kecamatan Jasinga, Bogor yang bekerja sebagai penjaga dan tukang kebun TKP pertama.Saksi kedua, Slamet Nur Fajri, warga Kampung Poncong, Desa Bojong Jengkol, RT 02/03, Kecamatan Ciampea, Bogor, yang bekerja sebagai penjaga dan tukang kebun TKP kedua. (umi/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads