"PKS mendorong proporsional terbuka, siapapun orang bisa mendapat kesempatan. Kedua merepresentasikan rakyat, suara banyak yang dipilih rakyat menang," kata Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini saat diskusi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (25/1/2017).
Seperti diketahui, dalam sistem tertutup, pemilih hanya diminta mencoblos logo partai, tanpa daftar nama caleg. Sedangkan dalam sistem terbuka, nama-nama caleg juga terpampang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan sampai takdir Tuhan terhadap seseorang diintervensi UU. Ketika tertutup, takdir Tuhan diintervensi oleh UU, tapi begitu terbuka silakan. Lapangan terbuka lebar siapa dipilih rakyat silakan," beber dia.
PKS sendiri, kata Jazuli, mendukung usulan pemerintah terkait ambang batas parlemen atau parliamentary threshold sebesar 3,5 persen. Menurut dia semua partai berhak mendapat kesempatan duduk di parlemen sehingga ada representasi rakyat.
"PKS setuju dengan mendagri ambang batas parliamentary threshold 3,5 persen. Ini kontestasi bukan soal jagoan, Ini pemilu maknanya representasi suara rakyat," kata dia.
Jazuli menyinggung partai politik (parpol) lain yang menerapkan ambang batas tinggi. Menurut dia, jangan sampai ada suara rakyat yang terbuang dia menampik jika PKS disebut takut tidak lolos.
"Artinya ada suara rakyat yang mubazir di situ. PKS bukan jiper dengan pemerintah, tapi ada suara yang terbuang di sini," ujar dia.
Jazuli menyebut PKS setuju sistem penghitungan suara dengan sistem Hare lantaran penghitungannya mengakomodir semua parpol mendapat kursi. "PKS dukung hare," pungkasnya. (ams/imk)











































