"Pengadaan sendiri tadi kalau nilai lampunya saja Rp 2,5 juta dikali 20 ribu sekitar Rp 60 miliar lebih, belum tiangnya, taruhlah tiangnya Rp 5 juta, jadi total Rp 100 milyar. Itu bisa 3 tahun anggaran," kata Rahmat Effendi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (25/1/2017).
Effendi bercerita, sebelumnya dia merancang pengadaan 17.500 lampu dalam 5 tahun, namun saat ini yang terealisasi hanya 15.000 lampu. Dia mengaku senang dan bersyukur karena bisa mendapat 20.000 lampu sekaligus tanpa menunggu 5 tahun dari Pemprov DKI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika ditanya apa saja hibah DKI yang sudah diterima oleh Pemkot Bekasi, Effendi mengatakan tidak terhitung. Bahkan DKI pernah menghibahkan truk sampah hingga uang miliaran rupiah untuk Bekasi.
"Sudah nggak bisa kehitung deh, yang pertama Rp 186 milyar tahun 2016 kemarin, yaitu melebarkan Jalan Jati Asih-Bojong Menteng, lalu uang Rp 143 miliar, tahun ini dapat flyover sama Rp 50 miliar lagi, katanya mungkin hampir mendekati 700-an truk sampah hampir 60 yang keluaran 2013, masih 60 persen layak pakai," terangnya.
Senada dengan Effendi, Plt Gubernur DKI Sumarsono juga menaruh apresiasi karena Bekasi selalu merespons cepat dibanding kota penyangga lainnya.
"Bekasi paling sering dapat hibah karena memang kita sebenarnya memberikan penawaran ke semua kota penyangga, tapi respons yang paling cepat Kota Bekasi karena sadar akan kebutuhan, jadi sangat positif ketika ditawarkan langsung respons cepat," tutur Sumarsono.
Dia mengutamakan kota mitra yang merespons tercepatlah yang diberi barang hibah. Dia juga mengaku senang bisa menghibahkan ribuan lampu penerangan itu.
"Buat kami, siapa yang respons duluan itu yang kami berikan sehingga yang memberi senang kalau yang merespons juga senang. Saya kira itu prinsipnya, 20.000 lampu itu semua di Bekasi," tutup Sumarsono. (nth/rvk)











































