"Apik men, pak Wali, niliki pasar nganggo kaos karo sandal jepit (bagus sekali, pak Wali, meninjau pasar pakai kaos dan sandal jepit)," ujar salah satu pedagang, Joko sambil bercanda, Selasa (24/1/2017).
Hendi memang masih menggunakan kaos bernoda lumpur karena ia baru saja mencanangkan Gerakan Tanam Padi dengan sistem Jajar Legowo di Desa Gilisari, Mijen. Ia kemudian memutuskan untuk berbelok dan meninjau harga cabai di Pasar Mijen sebelum kembali ke kantor untuk membersihkan diri.
Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom |
Didampingi istrinya, Tia Hendrar Prihadi, ia langsung bertanya kepada sejumlah pedagang terkait kondisi harga cabai. Salah satu pedagang cabai, Darsih mengatakan cabai rawit masih dijual dengan harga Rp 110 ribu per kilogram sedangkan cabai keriting Rp 40 ribu per kilogram.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi hal itu, menurut Hendi memang perlu penanganan untuk mengontrol harga cabai. Ia mencontohkan misalnya dengan mengurangi atau membatasi konsumsi cabai sehingga jika permintaan menurun maka harga juga akan mengikuti turun.
"Ada baiknya sementara kita mengurangi konsumsi cabai. Yang biasanya setiap hari mengkonsumsi cabai, bisa tiga hari sekali. Jadi jika permintaan berkurang, harga akan turun," kata Hendi.
Namun hal yang penting dilakukan yaitu gerakan menanam cabai seperti yang dilakukan dengan kerjasama dengan tim penggerak PKK. Dinas Pertanian Kota Semarang juga sudah menyiapkan bibit cabai sebanyak 15 ribu polybag untuk dibagikan gratis.
"Targetnya masing-masing minimal 1 kepala keluarga 1 tanaman cabai," tandasnya.
Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom |
Pada tinjauan Hendi di Pasar Mijen itu, ia juga berperilaku layaknya warga biasa yang sedang berbelanja. Hendi membeli beberapa dagangan sembari berdiskusi dengan penjualnya.
"Siapa lagi yang akan nglarisi pedagang di sini kalau bukan kita sendiri," ujar Hendi. (alg/ega)












































Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom