Effendy Gozali: Perpecahan Parpol Cermin Gagalnya Demokrasi
Rabu, 13 Apr 2005 14:55 WIB
Jakarta - Maraknya perpecahan di internal parpol di Indonesia saat ini dinilai pakar komunikasi politik UI Effendy Gozali, mencerminkan gagalnya transisi di era demokrasi."Ini memang peristiwa yang pasti terjadi," tandas Gozali usai acara peluncuran buku Pertanggungjawaban Publik Ali Maskyur Musa di Hotel Bidakara, Jl. Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu, (13/4/2005). Dia lalu menyontohkan perpecahan yang terjadi di tubuh PDI Perjuangan, PPP, PKB dan PAN dengan ancaman pembentukan parpol baru oleh salah satu kadernya Fuad BawazierMenurut Gozali, kegagalan PDIP dalam mengembangkan demokrasi dan mengawal transisi terlihat dari tertutupnya calon lain dalam pemilihan ketua umum PDIP dalam kongres di Bali, awal bulan ini.Seharusnya, kata Gozali, PDIP memberi ruang pada kader lain untuk bersaing dengan Megawati Soekarnoputri, tidak seperti yang terjadi dalam kongres awal April ini yang secara aklamasi memilih Mega.Dia juga menyontohkan, PAN. Menurutnya, PAN sudah lumayan baik dalam konteks pengembangan demokrasi. "Ini terbukti dengan mundurnya Amien dari bursa calon ketua umum," kata dia.Namun, menurutnya, Amien tidak cukup baik karena dia masih memakai dan membangun tradisi putera mahkota. Seharusnya, Amien tidak menyampaikan dukungan secara eksplisit dan terbuka ke publik dan pers terhadap Soetrisno Bachir yang saat ini menggantikannya."Dia mendukung salah satu calon yang dieksplisitkan ke pers. Harusnya kan dia bisa sampaikan ke orang per orang tanpa harus deklarasi. Itu kritik pada PAN. Ini yang menghambat transsisi demokrasi," katanya.Selain itu, dia juga mengomentari tradisi politik yang ada dalam PKB. Menurutnya, kepemimpinan Gus Dur sudah cukup baik karena dia membuka peluang yang besar kepada kader-kader muda untuk meminpin PKB tanpa membangun tradisi putera mahkota.Namun, dia menyayangkan pencalonan kembali Gus Dur sebagai Ketua Dewan Syuro PKB untuk periode mendatang. "Harusnya tokoh seperti Gus Dur tidak ikut lagi mencalonkan," katanya.Dia juga menjelaskan tentang fenomena perpecahan di tubuh Partai Demokrat. Menurutnya, konflik yang ada di partai ini termasuk paling kritis. "Karena selain partai ini tidak memiliki basis, Partai Demokrat juga hanya bergantung pada figur SBY, dan mekanisme internal partai juga belum terumuskan dengan baik," katanya.
(umi/)











































