Kompleks stadion dan hotel yang diberi nama Kidang Pananjung Cikubang itu nantinya tidak hanya diperuntukkan sebagai pusat ketangkasan seperti domba dan kambing. Tapi juga akan menjadi lokasi wisata alternatif bernuansa peternakan yang didukung dengan laboratorium terbuka untuk pelajar SD dan SMP.
"Ini (stadion) kali pertama kita pakai untuk Festival Ternak Unggul 2017. Tapi ini belum selesai, masih ada pembenahan dan pembangunan," ujar Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi di sela acara festival di Purwakarta, Sabtu (21/1/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, Pemkab Purwakarta akan membangun vila sebagai penginapan. Vila tersebut berkonsep rumah panggung dengan menggunakan bambu, laboratorium, dan pusat penelitian hewan ternak, hingga fasilitas pendukung, seperti tempat parkir dan pedagang makanan, juga suvenir.
"Kita juga siapkan hotel khusus hewan ternak, seperti domba, dengan kapasitas 50 ekor. Jadi nanti, sebelum bertanding, hewan-hewan bisa beristirahat. Kan yang ikut ketangkasan ini banyak yang dari luar daerah," ucapnya.
Lebih lanjut pria yang akrab disapa Kang Dedi itu mengatakan alasannya membangun stadion dan hotel dengan konsep mewah namun tetap tradisional ini tidak hanya untuk menunjang program Pemkab Purwakarta, yang tengah menggenjot sektor pariwisata. Namun juga untuk menarik perhatian generasi muda.
"Anggapan orang kan selama ini peternak itu kotor, bau, kumuh, jadi generasi muda tidak lagi tertarik. Tapi sekarang kita buat keren dan modern biar menarik," tuturnya.
Foto: Tri Ispranoto/detikcom |
Untuk menuntaskan pembangunan tersebut, Pemkab Purwakarta dari awal hingga akhir nanti sudah menyiapkan anggaran Rp 10 miliar. Jumlah tersebut, menurut Dedi, cukup untuk menata di lahan seluas 10 hektar karena menggunakan konsep tradisional yang mayoritas berbahan baku bambu itu.
Nantinya, jika semua pembangunan sudah selesai, Pemkab Purwakarta akan secara rutin menggelar festival hewan ternak, dari domba, sapi, ayam, ikan, hingga burung. "Kita buat sekeren dan semenarik mungkin untuk menumbuhkan kecintaan terhadap hewan ternak. Makan dagingnya suka, tapi beternaknya tidak mau. Ya minimal kita tahu dan bisa menghargai jasa para peternak tradisional," katanya.
Dari pantauan detikcom, Dedi sempat berkeliling untuk meninjau berbagai sudut lokasi. Banyak hal yang perlu diubah, seperti penambahan toilet umum, penataan pedagang kaki lima, hingga juru kawih (sinden Sunda) yang saat acara menggunakan pakaian tidak semestinya.
"Nilai-nilai kesundaan itu menurun karena kita sendiri yang suka serampangan. Masak juru kawih pakai pakaian kaya organ tunggal. Harusnya kan pakai samping, kebaya, rambut digelung. Nanti juga penonton yang ke sini harus pakai tiket," tutur Dedi.
Seperti diketahui, saat ini Kabupaten Purwakarta menjadi penyuplai utama hewan ternak, khususnya daging domba, untuk pasar Jabar dan sebagian Jakarta. Bahkan beberapa waktu lalu Pemprov DKI Jakarta berencana melakukan kerja sama untuk pengembangan sapi potong di Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta. (nwy/nwy)











































Foto: Tri Ispranoto/detikcom