"Kemarin, saya bertemu Pak Djarot. Saya bilang tolong, kami ditempatkan di Blok 5 ada yang kosong. Kalau boleh ditempatkan di lantai 1 atau 2. Tempatkan kami di Blok 5, saya bilang begitu ke Pak Djarot," kata salah satu pedagang di kantor pemasaran Pasar Senen Jaya, Jakarta Pusat, Jumat (20/1/2017).
"Saya ini punya tiga kios. Hampir 10 tahun di sini selalu saya bayar tepat waktu. Saya dengar tadi dari yang mendata relokasi, cuma dapat satu kios, tolong ini dijelaskan kenapa begini," lanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka juga tidak terima atas cara pendaftaran relokasi yang dianggap tak serius. Para pedagang ingin agar yang tokonya benar-benar hanguslah yang diprioritaskan mendapat kios baru. "Cara mendaftar tak sesuai. Mana bukti pembayarannya? Ini cuma dimintai KTP sama nomor telepon dan nomor kios. Padahal ada ribuan KTP. Ini yang akurat," kata pedagang lain sambil membawa bukti kepemilikan kios mereka.
Pimpinan unit pengelola Blok 1 dan 2 PD Pembangunan Jaya, Prismo Juniprianto, berusaha menenangkan pedagang. Dia berusaha menjawab pertanyaan para pedagang. "Saya Prismo, pimpinan Blok 1 dan 2. Saya turut prihatin dan berdukacita atas kejadian ini. Saya mohon Bapak-Ibu bersabar," kata Prismo di lokasi yang sama.
"Sistem pendaftaran kenapa hanya minta KTP dan nomor telepon serta nomor kios, ini untuk menggaransi bahwa Bapak-Ibu ada kios baru. KTP sama nomor unit sudah cukup sebagai bahan konfirmasi di data kita," ujarnya.
Untuk masalah kios, Prismo menjelaskan semua pedagang akan mendapatkan kios baru. Namun, karena lahan terbatas, saat ini satu pedagang hanya akan mendapatkan satu kios, bukan sejumlah kios yang mereka miliki sebelum kebakaran.
"Jadi mohon pengertian supaya intinya semua kita kebagian. Kita jangan pikirkan diri kita sendiri. Saya jamin semua pasti dapat," tegas Prismo.
"Saya minta kearifan para pedagang, yang penting satu-satu dulu," tambahnya.
Mendengar hal itu, pedagang semakin kencang memprotes. Mereka menginginkan kepastian akan kios tersebut.
"Bapak, tolong siapkan lapak 500 buat kita," teriak seorang pedagang perempuan.
"Jadi kapan dong bisa ditempatin? Kasih kepastian," ujar pedagang lain.
Pedagang mengancam akan berjualan di jalur TransJ. Foto: Nathania Riris Michiko/detikcom |
Prismo meminta waktu buat pihaknya untuk merapikan kios-kios baru tersebut. "Kita (di Blok 1 dan 2) ada 452 toko pakaian bekas, tidak mungkin langsung bisa ditempati kiosnya. Nanti akan dirapikan dulu, jadi satu setengah bulan lagi," jawab Prismo.
"Satu setengah bulan? Uang makan kami bagaimana? Secepatnya, kami mau dagang," ujar para pedagang.
"Ya sudah, kami tutup jalur busway saja. Kami jualan sampai tutup jalur busway," timpal pedagang lainnya.
"Iya, ayo tutup jalur busway-nya," sahut yang lain.
Prismo pun kembali berusaha menenangkan para pedagang. Dia berjanji akan memberikan jawaban beberapa hari ke depan setelah berbicara dengan pihak lain terkait. "Saya tidak bisa ambil keputusan. Mudah-mudahan besok sudah ada jawaban," janji Prismo. (aan/fjp)












































Pedagang mengancam akan berjualan di jalur TransJ. Foto: Nathania Riris Michiko/detikcom