"Radikalisme itu kan kalau dilihat dari ilmu komunikasi, ada 5 unsur, yaitu pertama, ada sender, pengirim berita. Kemudian beritanya, apa yang dia kirim. Ada receiver, channel atau saluran, dan kelima, adanya konteks," kata Tito di Muspimnas DKN Garda Bangsa di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (19/1/2017).
Jika dilihat dari kelima unsur tadi, kata Tito, ada 5 cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi kelompok radikal. Pertama, melemahkan orang-orang yang berpotensi menjadi sender atau orang yang melakukan perekrutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tito mengatakan upaya kedua yang dilakukan adalah melemahkan ideologi yang mereka coba sebarkan. Menurut Tito, melawan kelompok radikal juga bisa dilakukan dengan terus menggalakkan paham-paham yang seharusnya.
"Jadi kalau mereka lakukan kampanye tentang ideologi mereka, kita juga harus melakukan kampanye ideologi tandingan. Secara intens," ungkap Tito.
Upaya ketiga, menurut Tito, bisa dilakukan dengan menetralkan segmen masyarakat yang rentan menerima paham-paham itu. Dan keempat, melalui media penyampaian paham radikal.
"Program counter media di dunia maya, untuk melawan upaya yang dimanfaatkan kelompok radikal menyebarkan pahamnya," tutur Tito.
"Kelima, kita juga menetralisir konteks mereka. Bisa menggunakan penelitian dan survei para ahli," pungkas Tito. (kst/fjp)










































