Meski sudah tersenyum lagi, Saori mengaku masih trauma. Dia mengatakan tidak bisa melupakan kejadian saat dia dipukuli oleh Junior.
"Trauma masihlah, tidak mungkin nggak trauma. Karena dengan status sekarang saja masih curiga, kadang juga kesal kalau ingat-ingat lagi. Kalau dibilang hilang trauma, nggak mungkin," ujar Saori di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Jl Ampera Raya, Kamis (19/1/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saori Ishii (Fajar/detikcom) |
Dia mengatakan sudah memaafkan Junior. Tapi dia tetap ingin Junior diproses secara hukum. Hal itu dilakukan karena Saori ingin memberi pelajaran.
"Cuma satu sih, buat pelajaran bagi semua orang. Melakukan sesuatu itu biar berpikir dulu. Jangan kayak kemarin, minta damai tapi caranya sangat kasar, nggak keruanlah, menghina segala macam," ujarnya.
Kasus penganiayaan itu terjadi pada Jumat (21/10/2016) pagi. Saori terbangun dari tidur karena mendengar suara berisik dari kamar yang ditempati kekasihnya. Dia juga melihat piring-piring berantakan.
Saori Ishii (Fajar/detikcom) |
Saori kemudian menegur kekasihnya, yang malah dibalas dengan kata-kata kasar. Pasangan kekasih itu kemudian cekcok mulut hingga akhirnya Saori menampar kekasihnya, yang kemudian dibalas oleh kekasihnya dan berujung pada penganiayaan.
Saori merupakan WN Jepang karena ayahnya warga Jepang. Sedangkan ibunya adalah wanita asal Surabaya, Jawa Timur. Saori selama hidupnya selalu tinggal di Indonesia, khususnya Kota Jakarta dan Surabaya. Sebelum ke Jakarta, Saori di Surabaya. Di sana dia tinggal bersama orang tuanya. (rvk/fjp)












































Saori Ishii (Fajar/detikcom)
Saori Ishii (Fajar/detikcom)