"Kalau saya sih lebih senang jika siswa tidak memilih. Artinya, mata pelajaran yang sifatnya tidak memilih, karena akan ketahuan kemampuan anak dari masing-masing bidang studi," ujar Wakil Kepala SMA 70 Jakarta Achmad Safari saat ditemui detikcom di kantornya, Bulungan, Jakarta Selatan, Kamis (19/1/2017).
Achmad Safari saat ditemui di kantornya. (Heldania Utri Lubis/detikcom) |
Menurut Achmad, para siswa sejak awal sudah siap diuji semua mata pelajaran. Tetapi Achmad tetap menyerahkan pilihan itu kepada murid-muridnya.
"Tapi sebenarnya anak jangan sampai lengah dengan UN ini, karena ini bagian dari pemetaan sekolah, baik dari tingkat kabupaten provinsi dan nasional," ungkap Achmad.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para siswa SMA 70 Jakarta di sekolahnya. (Heldania Utri Lubis/detikcom) |
"Untuk saat ini sih mendingan dibalikin ke sistem UN yang lama aja. Semua peminatannya masuk, kayak saya kan IPA ada kimia, fisika, dan biologi, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika. Ya seperti biasanya aja, lebih baik begitu aja," ujar Nugra.
Nugra juga khawatir bilamana mata pelajaran pilihan berpengaruh terhadap jurusan yang diminati di perguruan tinggi. Meskipun sebetulnya tak ada pengaruh antara mata pelajaran pilihan di ujian nasional dan jurusan di perguruan tinggi.
"Jadi kayak belum juga penjurusan yang kita mau ambil, misalkan emang kia mau ambil teknik, tapi kita emang lebih bisa di biologi, jadi takutnya agak kehambat di situ, jadi kurang efisien saja," ungkap Nugra. (bag/tor)












































Achmad Safari saat ditemui di kantornya. (Heldania Utri Lubis/detikcom)
Para siswa SMA 70 Jakarta di sekolahnya. (Heldania Utri Lubis/detikcom)