Kerja sama ini tertuang dalam penandatangan memorandum of understanding (MoU) di Balai Kota Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (18/1/2017). Penyediaan air minum ini dilakukan dengan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).
"Sementara dalam beberapa waktu akan terus didampingi. Ada pendampingan dan monitoring sampai yakin betul kemudian baru dilepas," ujar Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono (Soni) kepada wartawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kualitas air hasil penyulingan ini menurut Natsir sesuai dengan standar air minum yang telah ditentukan.
"Kualitas selalu dikontrol, nanti akan dilihat kandungan kekeruhan, kandungan garam, dan lain-lain. Secara rutin akan diperiksa. Peralatan laboratoriumnya sudah disediakan, sudah ada," ujarnya.
Air hasil SWRO ini akan mengurangi beban tanggungan biaya masyarakat Pulau Untung Jawa. Menurutnya, biaya penyulingan dengan Sistem SWRO tidak mencapai Rp 200 ribu per kubik. Hal ini jauh lebih murah jika dibandingkan air isi ulang di Jakarta yang mencapai Rp 300 ribu per kubik.
"Kita membandingkannya jangan dengan air yang tidak siap minum, paling tidak kita bandingkan dengan refill yang Rp 6ribu per galon. Artinya Rp 300 ribu per kubik, sementara ini hasil SWRO tidak akan lebih dari Rp 200 ribu per kubik," imbuh Natsir.
Selama ini, masyarakat Pulau Untung Jawa memenuhi kebutuhan air minum dari air hujan dan air payau yang diolah dengan Backrish Water Reverse Osmosis (BWRO) yang sangat terbatas.
SWRO akan disambungkan langsung ke rumah warga melalui jaringan distribusi sepanjang 6.894 meter yang dapat menyambungkan air langsung kepada 492 KK di Pulau Untung Jawa.
(fdn/fdn)











































