Cerita Nenek Tinah Eks 'Pasukan Oranye' Luntang-lantung di Senayan

Cerita Nenek Tinah Eks 'Pasukan Oranye' Luntang-lantung di Senayan

Dewi Irmasari - detikNews
Rabu, 18 Jan 2017 14:45 WIB
Cerita Nenek Tinah Eks Pasukan Oranye Luntang-lantung di Senayan
Foto: Dewi Irmasari/detikcom
Jakarta - Mengenakan kaus lengan panjang berwarna oranye, nenek Tinah berjalan seorang diri di trotoar di jalan depan Hotel Mulia, Senayan, Jakarta. Bukan lagi sapu di genggaman tangan, Nenek Tinah menenteng tiga kantong plastik.

Hidup nenek Tinah kini luntang-lantung. Nenek Tinah kehilangan pekerjaannya sejak diberhentikan sebagai Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) alias pasukan oranye di Gelora Senayan, Jakarta.

Saat ditemui, Nenek Tinah tengah duduk di pinggir jalan tak jauh dari Hotel Mulia. Kantong plastik yang dibawa ternyata berisi makanan dan air yang baru dibelinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nasi buat suami saya sama kucing," kata Nenek Tinah menunjukkan isi kantong plastik, Rabu (18/1/2017).

Cerita Nenek Tinah Eks 'Pasukan Oranye' Lontang-lantung di SenayanFoto: Dewi Irmasari/detikcom


Sampai saat ini Nenek Tinah tak terima diberhentikan dari pekerjaannya. Dia juga menyangkal dugaan dirinya tak disiplin saat bekerja.

Waktu bekerja Nenek Tinah dimulai pukul 05.00 WIB dengan lebih dulu menyapu di wilayah Kelurahan Gelora hingga ke depan pintu 7 Gelora Bung Karno.

"Saya kalau jarang masuk, bolos, absen saya bolong dong. Absen saya penuh kok tiap bulan," tuturnya.

Nenek Tinah memulai pekerjaannya sebagai penyapu jalan di sekitar Gelora, Senayan, sejak tahun 2000. Saat itu penghasilan yang diterima Tinah Rp 7.500.

Penghasilannya kemudian meningkat hingga menjadi Rp 3,1 juta pada masa kepemimpinan Joko Widodo, saat menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Tapi Nenek Tinah kini harus gigit jari karena diberhentikan sebagai 'pasukan oranye'. Saat ditanya soal waktu pemberhentian kerja, Nenek Tinah tak menjawab lugas. Dia hanya menyebut pemberhentian diberlakukan pada 2016.

Dia berharap nasibnya diperhatikan pemerintah. Bila ada bantuan, Nenek Tinah ingin berjualan menyambung roda ekonomi hidup.

"Harapan mah tinggi aja, cuma dananya ini kagak ada," katanya.



(fdn/erd)


Berita Terkait