Sky Hospital RSUD Tarakan akan Prioritaskan Pasien Kelas 3

Galang Aji Putro - detikNews
Rabu, 18 Jan 2017 14:39 WIB
Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono dalam acara groundbreaking proyek pembangunan gedung 18 lantai (Sky Hospital) RSUD Tarakan (Haris Fadhil/detikcom)
Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono dalam acara groundbreaking proyek pembangunan gedung 18 lantai (Sky Hospital) RSUD Tarakan (Haris Fadhil/detikcom)
Jakarta - Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono telah meresmikan pembangunan Sky Hospital RSUD Tarakan. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto menyebut rumah sakit itu akan menjadi tumpuan semua warga Jakarta.

"Di DKI kan kita baru punya rumah sakit tipe A ya di RSUD Tarakan ini. Yang lainnya itu kan rumah sakit di bawah Kementerian Kesehatan, yang menjadi rujukan nasional. Ini akan menjadi tumpuan warga Jakarta," ucap Koesmedi di RSUD Tarakan, Jl Kyai Caringin, Jakarta Pusat, Rabu (18/1/2017).

Dia berharap Sky Hospital RSUD Tarakan mampu menampung pasien rujukan dari rumah sakit tipe D hingga tipe B. Selain itu, rumah sakit tersebut dipersiapkan guna menangani pasien dengan penyakit kronis.

"Memang di sini pasien tidak akan banyak sekali, hanya pasien spesifik yang tidak bisa diselesaikan di RS tipe D dan tipe B kita bawa ke sini. Rumah sakit ini juga mempunyai tugas untuk menyelesaikan masalah, seperti stroke, kecelakaan lalu lintas, jantung, kanker, dan gagal ginjal," jelasnya.

Dia menyebutkan RSUD Tarakan mampu menampung 580 pasien setelah dibangunnya Sky Hospital. Sebagian besar ranjang diprioritaskan bagi pasien kelas 3.

"Di sini ada 460 ranjang, ditambah 120 ranjang untuk Sky Hospital. Jadi total 580 ranjang. Tapi kita tetap prioritaskan 70 persen tempat tidurnya itu untuk pasien kelas 3," ujarnya.

Koesmedi menyebutkan saat ini terdapat 24.670 ranjang bagi pasien di seluruh rumah sakit di Jakarta. Ranjang-ranjang itu mencakup RSUD, RSUP, dan rumah sakit swasta.

"Tapi masalahnya, beberapa rumah sakit swasta keberatan soal metode activity based costing atau perhitungan tarif rawat inap. Jadi pemerintah daerah mengambil alih memang, kalau pasien tidak mampu, maka peralatannya kita gratiskan asal mereka mau di kelas 3 dan lewat puskesmas," paparnya.

Dia mengatakan tahun ini akan dibangun sebanyak 5 rumah sakit dari total 44 rumah sakit yang direncanakan. Untuk merealisasi rencana itu, diperlukan adanya koordinasi dengan dewan pengawas.

"Di kecamatan itu, ada rumah sakit, sekarang baru ada 22. Tahun ini kita bangun 5 jadi 27. Sisanya kita bangun lagi tahun depan," kata Koesmedi.

"Kita atur dulu dengan dewan pengawas. Kita melihat kekhususan dari rumah sakit itu supaya Pemda DKI juga membeli alat yang banyak," ucapnya.


(rvk/rvk)