DetikNews
Rabu 18 Januari 2017, 12:14 WIB

Cerita Jamal 20 Tahun Merawat dan Melatih Gajah Liar untuk Pengusiran

Agus Setyadi - detikNews
Cerita Jamal 20 Tahun Merawat dan Melatih Gajah Liar untuk Pengusiran Foto: Agus Setyadi/detikcom
Aceh Besar - Jamaluddin (37) melepas rantai di pohon tempat anak gajah diikat dengan hati-hati. Seketika, hewan bertubuh besar berusia sekitar satu tahun itu berlari-lari. Tingkah lucunya mengundang tawa mahout yang merawatnya.

Saat pertama dibawa ke Pusat Konservasi Gajah (PKG) di Saree, Aceh Besar, Aceh, kondisi bayi gajah tersebut sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus kering dan tidak sanggup berdiri. Ia mengalami gizi buruk karena terpisah dari induk, habitat, dan kawanannya.
Jamaluddin merawat dan melatih gajah selama 20 tahun.Jamaluddin merawat dan melatih gajah selama 20 tahun. (Agus Setyadi/detikcom)


Tim mahout dan tim dokter menanganinya dengan sigap. Obat-obatan, makanan, dan minuman diberikan untuk memulihkan kondisinya. Memasuki hari kedua berada di 'rumah baru', bayi gajah yang ditemukan di Desa Jambo Reuhat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, itu sudah mulai agresif lagi. Ia suka menyerang jika ada orang yang berdiri di dekatnya.

Beberapa mahout bahkan pernah tersungkur diseruduk gajah tersebut. Namun itu menjadi ajang perkenalan bagi para mahout. Melihat tingkah hewan berjulukan 'Po Meurah' itu mulai aktif, Jamal memilih berhati-hati berada di dekatnya. Alasannya, dalam sehari Jamal sudah beberapa kali dikejar bayi gajah jantan tersebut.

Setelah mengikat kembali gajah di tempat lain yang mudah dipantau, Jamal meninggalkan lokasi. Ia pulang ke rumahnya yang masih berada di Kompleks PKG Saree. Beberapa mahout juga ikut jejak langkah Jamal pulang ke kediaman masing-masing.

Kondisi anak gajah yang mengalami gizi buruk kini berangsur membaik.Kondisi anak gajah yang mengalami gizi buruk kini berangsur membaik. (Agus Setyadi/detikcom)


"Gajah ini sudah mulai bagus dibandingkan hari pertama tiba di sini. Perawatannya kami lihat dalam tiga bulan ke depan. Ini kami belum tahu makanan yang dia suka, makanya sekarang apa saja kami kasih," kata Jamal saat ditemui di PKG Saree, Rabu (18/1/2017).

Di PKG Saree, Jamal menjabat ketua mahout. Ia sudah 20 tahun merawat gajah, mulai saat masih liar hingga jinak dan terlatih. Suka-duka menangani hewan dilindungi tersebut sudah dirasakannya. Berada bersama gajah menjadi tugas sehari-hari.

Jamal berkisah untuk melatih seekor gajah liar menjadi jinak dan memiliki keahlian mengusir gajah liar lain bukan perkara mudah. Ia harus mengerjakannya bareng-bareng dengan mahout lain. Di PKG Saree, ada satu tempat khusus yang dibuat sebagai lokasi pelatihan gajah.
Gajah-gajah ini dilatih untuk mengusir gajah liar.Gajah-gajah ini dilatih untuk mengusir gajah liar. Foto: Agus Setyadi/detikcom

Di sana, gajah yang masuk pendidikan diikat pada seekor gajah jinak. Mahout selanjutnya menarik kaki gajah liar tersebut secara pelan-pelan. Metode latihannya dimulai dari yang paling dasar, yaitu angkat kaki kiri dan kaki kanan. Jika itu sudah dikuasai, dilanjutkan dengan beberapa latihan lain.

Sebagian gajah, hanya butuh waktu sekitar satu tahun untuk menjadi terlatih dan siap dibawa untuk mengusir gajah liar. Tapi ada juga yang harus dilatih hingga tiga tahun.

"Latihannya tergantung gajah dan mahout. Kalau mahout yang tangani rajin, dan gajahnya pintar, satu tahun sudah jadi," jelas Jamal.

Selama 20 tahun menjadi mahout, ada sekitar 10 gajah yang ditangani Jamal dan tim. Saat pelatihan, kaki gajah diikat dengan rantai agar tidak menyerang para mahout. Meski demikian, ada juga yang sempat diseruduk. Ia juga pernah menjadi korban.
 Sebagian gajah, hanya butuh waktu  satu tahun untuk dilatih dan siap dibawa mengusir gajah liar. Sebagian gajah hanya butuh waktu satu tahun untuk dilatih dan siap dibawa untuk mengusir gajah liar. (Agus Setyadi/detikcom)


Menurut Jamal, gajah yang masuk pelatihan biasanya mulai umur 5 tahun. Hal itu karena tulang-tulang gajah sudah kuat sehingga tidak mudah patah saat dilatih. Selain untuk mengusir gajah liar, beberapa gajah dipakai untuk beratraksi.

"Kami latih gajah di sini intinya untuk pengusiran. Kalau atraksi itu ringan. Gajah yang dibawa atraksi tentu sudah pandai," ungkap pria asal Lhokseumawe ini.

Jumlah gajah jinak di Aceh hingga kini sebanyak 34 ekor dan tersebar di beberapa Conservation Response Unit (CRU). Ada gajah yang ditemukan di beberapa wilayah di Aceh karena terpisah dengan induknya dan yang lahir di sana. Semua gajah jinak ini diberi nama sesuai dengan jenis kelamin.

Di PKG Saree kini tinggal tujuh ekor, termasuk bayi gajah yang baru tiba. Selebihnya disiagakan di CRU untuk mencegah konflik gajah liar dengan masyarakat.

Dalam beberapa tahun terakhir, konflik manusia dan gajah di Aceh semakin meningkat. Beberapa desa di wilayah seperti Aceh Timur, wilayah barat Aceh, dan sekarang Kabupaten Pidie kerap didatangi gajah. Mereka merusak berbagai tanaman masyarakat.

Konflik ini hingga sekarang belum tertangani. Setiap tahun, beberapa ekor gajah Sumatera yang dilindungi mati dibunuh. Ada yang diracun, ditembak, dan diburu. Terakhir, seekor gajah jantan ditemukan mati di Desa Jambo Reuhat, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, pada Sabtu, 14 Januari 2017. Ada tiga luka di tubuh hewan bertubuh besar itu dan diyakini sebagai bekas tembakan. Gadingnya juga hilang.

Berdasarkan data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, dalam tiga tahun terakhir, 22 ekor gajah ditemukan mati di seluruh Aceh. Pada 2016, tiga gajah mati, dan pada 2015 ada 9 gajah yang mati. Sedangkan pada 2014, ada 10 ekor yang menjadi korban.

Beberapa tahun lalu, pihak BKSDA berencana membuat tempat isolasi gajah atau membangun kawasan konservasi khusus gajah (sanctuary). Tujuannya agar gajah-gajah yang berkonflik dengan masyarakat tidak lagi turun ke perkampungan.

"Di sana istilahnya tempat suaka gajah. Nanti gajah-gajah yang berkonflik akan digiring ke sanctuary," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh saat itu, Genman Suhefti Hasibuan, saat dihubungi detikcom, Jumat (27/11/2015).

Beberapa hari lalu, gajah liar yang turun ke Desa Babah Jurong, Kecamatan Mila Pidie, dipasangi GPS Collar untuk mengetahui pergerakan gajah. Di sana, diperkirakan ada 23 ekor gajah dan kini bertahan di Kecamatan Mila serta Keumala. Seekor gajah jinak dari PKG Saree juga sudah dikerahkan ke sana agar hewan-hewan tersebut kembali ke habitatnya.

"Besar kemungkinan kelompok gajah ini berasal dari kawasan hutan di sekitar Jantho dan Seulawah Inong. Bahkan tidak menutup kemungkinan juga terhubung dengan habitat gajah yang berada di Seulawah Agam. Data GPS Collar ini akan membantu kita dalam melakukan rencana pengelolaan habitat gajah ini bersama pemerintah daerah dan masyarakat yang memangku kawasan," kata Kepala BKSDA Aceh Sapto Aji Prabowo dalam keterangan tertulis, Senin (16/1).

Kembali ke soal kisah Jamal, ia bergabung menjadi mahout pada 1997 setelah diajak oleh seorang mahout untuk bergabung. Saat itu, desa di kawasan Lhokseumawe menjadi lokasi tempat gajah dilatih. Dengan para mahout, mereka sudah menjadi seperti saudara.

Suatu hari, ia diajak untuk bergabung. Setelah berpikir-pikir, ia menerima tawaran tersebut. "Saya kerja di gajah (jadi mahout) karena suka," jelasnya.

Selama merawat gajah, segudang pengalaman didapatnya. Untuk menyebutnya, ia seperti kehabisan kata-kata. "Pengalaman sama gajah sebenarnya banyak. Nggak tahu kami bilang," ungkap Jamal.

Jamal berpesan agar perburuan dan pembunuhan gajah tidak terulang. Ia berharap pihak terkait segera turun tangan untuk menangani konflik gajah dengan manusia.

"Gimana caranya harus ada solusi tangani konflik gajah," harap Jamal.

Yuk, lindungi gajah dari kepunahan!


(aan/aan)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed