Melihat Jejak Sejarah Soekarno di Kalteng

Melihat Jejak Sejarah Soekarno di Kalteng

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Rabu, 18 Jan 2017 10:30 WIB
Melihat Jejak Sejarah Soekarno di Kalteng
Foto: Edward Febriyatri Kusuma/detikcom
Palangkaraya -

Kedatangan presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno, ke Palangkaraya meninggalkan satu cerita tentang asal-usul Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Peristiwa itu diabadikan dengan mendirikan Tugu Soekarno, yang terletak tidak jauh dari Sungai Kahayan.

detikcom menyambangi Tugu Soekarno, yang berada di Jalan S. Parman, Kelurahan Palangka, Kecamatan Pahandut, Kota Palangkaraya, Sabtu (14/1/2017).

Tugu ini terdiri dari 16 pilar kecil dan satu pilar besar. Ada ornamen api di bagian atas yang bermakna bagi masyarakat dayak di Kalteng.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kehadiran bentuk pilar tersebut diartikan sebagai senjata perang, sedangkan tugu api yang tak kunjung padam memiliki makna semangat kemerdekaan dan membangun.

Melihat Jejak Sejarah Soekarno di KaltengFoto: Edward Febriyatri Kusuma/detikcom


Angka 17 melambangkan hikmah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, serta bentuk segi lima tugu melambangkan Pancasila yang mengandung makna Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sabran Achmad (87) adalah salah satu saksi yang melihat kedatangan Soekarno ke Kalteng. Mantan Ketua Umum Dewan Adat Dayak ini masih mengingat jelas detik-detik kedatangan presiden pertama Indonesia itu ke tanah 'Bumi Tambun Bungai, Bumi Pancasila'.

"Pada tanggal 17 Juli tahun 1967, Bung Karno datang, saya juga hadir mengikuti beliau dari Banjarmasin," kata Sabran dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (18/1/2017).

Seolah magnet bagi manusia, kedatangan Bung Karno dengan kapal kelotok di Sungai Kahayan diikuti oleh ribuan orang Dayak dari seluruh pelosok daerah. Kedatangan Bung Karno saat itu tidak lain untuk meresmikan Provinsi Kalteng.

"Saya masih ingat waktu itu Bung Karno datang dengan diikuti ribuan orang di belakangnya. Nah Bung Karno waktu itu bukan meletakkan batu pertama, tetapi menancapkan tiang pertama Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah, jadi ini cerita yang benar," kata Sabran.

Sabran masih memiliki ingatan yang kuat. Dia menceritakan peristiwa tersebut dengan lancar.

"Saya tahu, karena saya yang bentuk provinsi ini. Dulu, ini adalah hutan rimba nggak ada apa-apa. Selain hutan rimba di tepi Sungai Kahayan itu," imbuh Sabran.

Melihat Jejak Sejarah Soekarno di KaltengFoto: Edward Febriyatri Kusuma/detikcom


Sabran mengaku heran tidak ada satu pun orang yang bertanya tentang pemasangan tiang pancang oleh Bung Karno di tepi sungai itu. Sedangkan wilayah Kalimantan Tengah memiliki luas 2.400 kilometer persegi.

"Karena ini semua darurat. Jadi Bung Karno meletakkan itu jam 10 pagi pada tanggal 17 Juli 1957. Jadi tiang pertama itu ditancap di bukit Jekan," imbuhnya.

Sabran menceritakan kayu tiang pancang berdiameter 15-20 sentimeter itu tidak ditancapkan dengan kedua tangan Bung Karno, melainkan digantung dengan ketinggian mencapai 10 meter yang diikat dengan tali.

"Tiang pancang itu diikat dengan tali, lalu 10 menit kemudian tali itu diputuskan dari sana dengan mandau oleh Bung Karno. Ini tidak ada yang tahu oleh anak-anak sekarang. Saya sendiri melihat itu semua sendiri," katanya.

Melihat Jejak Sejarah Soekarno di KaltengFoto: Edward Febriyatri Kusuma/detikcom


Sabran menceritakan, setelah peristiwa itu, Bung Karno pun bersuka ria bersama masyarakat di Pahandut. Keesokan harinya pun Bung Karno kembali pulang dengan menyusuri Sungai Kahayan.

"Setelah itu, kami semua bersuka ria di Pahandut. Beliau menggunakan mobil jip, mobilnya didorong karena kondisi jalannya masih pasir. Malam itu Bung Karno sempat menginap tidur di Pesanggrahan, tapi sekarang sudah hilang tempatnya. Besok paginya beliau baru pulang ke Jakarta dengan menyusuri Sungai Kahayan hingga Kapuas ke Banjarmasin," imbuhnya. (edo/fdn)


Berita Terkait