Prediksi LSI Denny JA Jika Ada Putaran Kedua di Pilgub DKI

Dinamika Pilgub DKI

Prediksi LSI Denny JA Jika Ada Putaran Kedua di Pilgub DKI

Cici Marlina Rahayu - detikNews
Selasa, 17 Jan 2017 18:14 WIB
Prediksi LSI Denny JA Jika Ada Putaran Kedua di Pilgub DKI
Survei LSI Denny JA (Cici Marlina Rahayu/detikcom)
Jakarta - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dipimpin Denny Januar Ali memetakan peta persaingan tiga pasangan calon di Pilgub DKI 2017. Mayoritas responden disebut lebih ingin Pilgub DKI 2017 berlangsung satu putaran.

Hasil survei memperlihatkan elektabilitas Agus-Sylvi sebesar 36,7%, Ahok-Djarot memperoleh dukungan 32,6%, sementara elektabilitas Anies-Sandi sebesar 21,4%. Mereka yang belum menentukan pilihan sebesar 9,3%.

"Elektabilitas Anies-Sandi yang cenderung stagnan dan bahkan turun menguatkan kesimpulan LSI Denny JA bahwa pasangan Anies-Sandi berpeluang tersingkir di putaran pertama," papar peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa, dalam rilis survei di Graha Dua Rajawali, Jl Pemuda No 70, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (17/1/2017).

Baca Juga: LSI Denny JA: Elektabilitas Agus dan Ahok Naik, Anies Turun

Survei terbaru LSI Denny JA dilakukan pada 5-11 Januari 2017. Jumlah responden survei sebanyak 880 orang dengan wawancara tatap muka responden menggunakan kuesioner. Metodenya adalah multistage random sampling dengan margin of error +- 3,4%.

Survei LSI Denny JA juga menyoroti sentimen terhadap Ahok setelah ada persidangan dugaan penistaan agama. Sebanyak 85,9% responden tahu Ahok berstatus tersangka.

"Dari mereka yang mengetahui Ahok tersangka, sebesar 60,4% menyatakan tidak rela jika gubernur terpilih adalah seorang terdakwa penista agama," ujar Ardian.

LSI Denny JA membuat simulasi putaran kedua Pilgub DKI. Jika Agus berhadapan dengan Ahok, Agus memperoleh 48,1%, sementara Ahok 33,9%. Bila Ahok vs Anies, elektabilitas Anies 41,8% dan Ahok 29,7%.

"Ahok akan kalah jika tidak di putaran pertama, maka di putaran kedua," ujar Ardian.

Dari hasil survei LSI Denny JA, sebanyak 75,6% responden ingin pilkada hanya berlangsung satu putaran. Alasannya, mereka ingin gubernur terpilih lebih cepat, hemat anggaran, dan meminimalkan konflik sosial.



(imk/erd)


Berita Terkait