Hasto: Ibu Mega Susun Sendiri Pidatonya soal Peramal Masa Depan

Hasto: Ibu Mega Susun Sendiri Pidatonya soal Peramal Masa Depan

Erwin Dariyanto - detikNews
Selasa, 17 Jan 2017 16:41 WIB
Hasto: Ibu Mega Susun Sendiri Pidatonya soal Peramal Masa Depan
Foto: Ari Saputra/detikcom
Jakarta - Pidato Megawati Soekarnoputri pada HUT ke-44 PDIP pada Selasa (10/1/2017) dipersoalkan oleh imam besar Front Pembela Islam Habib Rizieq Syihab. Namun tak sedikit pula yang memuji pidato Ketua Umum PDIP tersebut.

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan keseluruhan pidato tersebut disiapkan sendiri oleh Megawati. Tentunya melalui perenungan yang mendalam, khususnya menyangkut kondisi Tanah Air akhir-akhir ini.

"Keseluruhan pidato Ibu Megawati dipersiapkan oleh beliau melalui perenungan yang mendalam, kontemplasi dengan rasa cinta kepada bangsa dan negara, dan disampaikan dengan lantang untuk bangsa dan negara Indonesia," kata Hasto saat berbincang dengan detikcom, Selasa (17/1/17).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pidato Mega tersebut, kata Hasto, juga disampaikan dengan komitmen kuat untuk menjaga 4 pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Kebinekaan Indonesia. "Dalam kapasitas Ibu Megawati sebagai Ketua Umum dan presiden kelima RI, maka sangat wajar beliau memberikan jawaban atas berbagai persoalan yang muncul saat ini," papar Hasto.

Sebelumnya, politikus Gerindra yang juga Wakil Ketua DPR, Fadli Zon memperkirakan ada orang khusus yang menyiapkan pidato Mega tersebut. Ini melihat di salah satu pidatonya, Mega menyebut hal-hal yang berhubungan dengan akhirat.

"Kalau kita dari sisi politik melihat, kalau ada hal-hal yang bisa bermakna ganda, itu biasa saja. Tapi mungkin ada yang mempertanyakan pernyataan soal akhirat, saya yakin ada yang mempersiapkan pidatonya," kata Fadli Zon kepada wartawan, Selasa (17/1/2017).

Bagian pidato Mega yang dipersoalkan tersebut adalah kalimat yang menyebut soal 'peramal masa depan'. Kalimat itu diucapkan Mega saat menyinggung ideologi tertutup. Ideologi ini muncul dari pihak-pihak yang ingin melakukan tindakan hanya didasarkan pada kekuasaan totaliter. Bagi mereka, teror dan propaganda adalah jalan kunci tercapainya kekuasaan.

"Tidak hanya itu, mereka benar-benar antikebinekaaan. Itulah yang muncul dengan berbagai persoalan SARA akhir-akhir ini. Di sisi lain, para pemimpin yang menganut ideologi tertutup pun memosisikan dirinya sebagai pembawa "self fulfilling prophecy", para peramal masa depan. Mereka dengan fasih meramalkan yang akan pasti terjadi di masa yang akan datang, termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana, yang notabene mereka sendiri belum pernah melihatnya," begitu kata Mega.

(erd/van)


Berita Terkait