Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi ini terjadi pada pukul 19.42.13 WIB dengan kekuatan M=5,6, Selasa (17/1/2017). Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 3,38 Lintang Utara dan 98,45 Bujur Timur, tepatnya di darat pada jarak 15 km arah barat laut Sibolangit pada kedalaman 19 km.
Berikut analisis BMKG sebagaimana disampaikan Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di wilayah tersebut di atas, dampak gempa bumi dapat berpotensi menyebabkan kerusakan. Di Medan dan sekitarnya guncangan dilaporkan dirasakan cukup kuat mencapai skala intensitas II SIG-BMKG atau IV-V MMI. Beberapa daerah lain yang juga merasakan guncangan adalah Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Kualanamu, Sidikalang, Karo, Binjai, Kabanjahe, dan Kutabuluh. Laporan sementara mengenai kerusakan akibat gempa bumi terjadi di beberapa tempat, seperti di Medan, Bandar Baru, dan Karo.
Gempa bumi Sibolangit yang terjadi merupakan jenis gempa bumi tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake) akibat aktivitas sesar lokal. Meskipun lokasi episenter terletak relatif dekat dengan Zona Sesar Sumatera (Sumatera Fault Zone) tetapi gempa bumi ini tidak disebabkan oleh aktivitas Sesar Besar Sumatera tersebut. Berdasarkan karakteristik catatan gelombang seismik dan mekanisme sumbernya, tampak bahwa gempa bumi ini murni disebabkan oleh aktivitas tektonik dan bukan akibat aktivitas vulkanik.
Mekanisme sumber hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi ini dipicu oleh aktivitas sesar dengan mekanisme pergerakan dengan arah mendatar (strike-slip fault). Selain catatan seismik, data mekanisme sumber ini juga menjadi bukti bahwa gempa bumi tektonik ini memang dipicu oleh aktivitas sesar lokal. Analisis mekanisme sumber ini memberi gambaran bahwa di pusat gempa bumi terdapat struktur sesar yang memiliki pergerakan mendatar menganan (dextral) dengan orientasi penyesaran yang berarah barat laut-tenggara di wilayah Gunung Sibayak.
Peta tektonik setempat menunjukkan bahwa di Sibolangit dan sekitarnya memang terdapat sebaran beberapa struktur sesar lokal. Sayangnya, hingga saat ini struktur sesar lokal ini belum memiliki nama, sehingga menyulitkan untuk menyebut nama sesar pembangkit gempa bumi ini. Karena keberadaan struktur sesar lokal ini, wajar jika daerah ini rentan terjadi aktivitas gempa bumi tektonik dangkal. Tidak benar adanya pendapat bahwa di daerah Sibolangit dan sekitarnya belum pernah terjadi gempa bumi. Meskipun catatan peristiwa gempa bumi merusak di daerah ini belum ada, tetapi BMKG mencatat bahwa selama periode 1993-2016 telah terjadi 14 aktivitas gempa bumi dangkal dengan kekuatan kurang dari M=4,0. Jumlah ini termasuk 2 aktivitas gempa bumi Sibolangit yang terjadi Senin malam (16/1). Berdasarkan fakta seismisitas lokal ini maka gempa bumi Sibolangit yang terjadi memang dipicu oleh aktivitas sesar aktif.
Peristiwa gempa bumi Sibolangit menarik untuk dicermati. Gempa bumi ini termasuk dalam gempa bumi Tipe II menurut ahli gempa bumi Jepang Kiyoo Mogi (1963), yaitu aktivitas gempa bumi dengan tipe foreshocks-mainshocks-aftershocks. Seperti kita ketahui, gempa bumi utama (mainshock) yang terjadi ternyata didahului oleh aktivitas gempa bumi pendahuluan (foreshock) dan diikuti rangkaian aktivitas gempa bumi susulan (aftershocks). Gempa bumi pendahuluan terjadi hanya sekali pada pukul 19.13.30 WIB dengan kekuatan M=3,9. Sekitar 29 menit kemudian, terjadi gempa bumi utama dengan kekuatan M=5,6 pada pukul 19.42.13 WIB. Selanjutnya pada 16 menit pascagempa bumi utama, tepat pukul 19.58.37 WIB terjadi gempa bumi susulan dengan kekuatan M=2,3. Hasil monitoring BMKG hingga hari Selasa (17/1) pukul 04.00 WIB, sudah terjadi 29 kali gempa bumi susulan dengan kekuatan yang terus mengecil secara fluktuatif.
Kecenderungan kekuatan gempa bumi susulan yang terus mengecil ini menunjukkan kondisi tektonik yang makin stabil. Selain itu, karakteristik sesar lokal memang tidak memungkinkan untuk membangkitkan gempa bumi dengan kekuatan sangat besar. Sehingga berdasarkan data besaran kekuatan gempa bumi susulan dan didukung potensi magnitudo sesar lokal yang menjadi pembangkit gempa bumi, maka diyakini sangat kecil peluang akan terjadi gempa bumi susulan dengan kekuatan yang lebih besar dari gempa bumi utamanya. Untuk itu, kepada warga masyarakat Sibolangit dan sekitarnya diimbau agar tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Ada beberapa pembelajaran yang dapat diambil dari kasus gempa bumi Sibolangit ini. Pertama, di wilayah Indonesia masih banyak struktur sesar yang belum diberi nama, sehingga menjadi penting upaya penamaan struktur sesar yang berpotensi aktif untuk memudahkan penyebutan sumber ancaman dalam kajian mitigasi gempa bumi. Kedua, perlu meningkatkan kegiatan antar lembaga terkait dalam monitoring dan kajian struktur sesar yang diduga aktif untuk kesiapsiagaan dalam menghadapi gempa bumi. Terakhir adalah menggalakkan kegiatan sosialisasi yang berkelanjutan akan pentingnya bangunan aman gempa bumi, karena potensi ancaman gempa bumi darat dan dangkal tidak harus berkekuatan besar untuk dapat menimbulkan kerusakan pada struktur bangunan yang lemah. (fjp/fjp)










































