DetikNews
Senin 16 Januari 2017, 15:09 WIB

Persoalkan Suap ke Hakim Tak Terbukti, KPK Banding Vonis Raoul

Dewi Irmasari - detikNews
Persoalkan Suap ke Hakim Tak Terbukti, KPK Banding Vonis Raoul Kabiro Humas KPK Febri Diansyah (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - KPK mengajukan banding atas vonis Raoul Aditya Wiranatakusumah. KPK menganggap salah satu pertimbangan hakim tidak sesuai dengan tuntutan terhadap advokat yang menyuap panitera pengganti di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat itu.

"Benar kami akan ajukan banding untuk putusan tersebut," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah, Senin (16/1/2017).

"Salah satu argumentasi yang penting adalah terkait dinyatakan tidak terbuktinya penerimaan suap bersama-sama antara panitera dan hakim," imbuh Febri.

(Baca juga: KPK Yakini 2 Hakim PN Jakpus Turut Serta Terima Suap SGD 28 Ribu)

Dalam surat tuntutan, KPK memang menyampaikan bahwa Raoul menyuap dua hakim PN Jakarta Pusat, Partahi Tulus Hutapea dan Casmaya, melalui Santoso selaku panitera. Namun, dalam putusannya, majelis hakim PN Tipikor menilai unsur suap sampai ke dua hakim itu tidak dapat dibuktikan. KPK pun meradang.

"Sebagaimana disampaikan pada tuntutan KPK terhadap M Santoso, penuntut umum yakin ada indikasi perbuatan bersama-sama tersebut," tegas Febri.

Pada Senin, 9 Januari 2017, majelis hakim PN Tipikor menjatuhkan vonis hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 150 juta kepada Raoul. Pengacara itu terbukti bersalah memerintahkan anak buahnya untuk menyuap panitera pengganti di PN Jakarta Pusat, Santoso.

Sebelumnya, Raoul dituntut 7 tahun 6 bulan dengan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan penjara. Raoul diyakini jaksa telah menyuap Santoso sebesar SGD 28 ribu. Sebanyak SGD 25 ribu di antaranya untuk hakim Partahi Tulus Hutapea dan Casmaya.

Partahi dan Casmaya merupakan anggota majelis hakim yang menangani sengketa perdata, di mana Raoul menjadi salah satu pengacara dari pihak beperkara, yakni PT Kapuas Tunggal Persada (KTP). Sedangkan lawan PT KTP selaku pihak penggugat adalah PT Mitra Maju Sukses (MMS).

Namun Partahi dan Casmaya membantah terkait dengan kasus suap tersebut. "Banyak orang yang datang ke saya. Kalau menyangkut hal spesifik, saya tidak pernah ingat. Seingat saya, kami bertemu bukan di ruang rapat, tapi di lorong. 'Pak sudah satu minggu, ya'. Ya satu minggu. sebatas itu. Hal-hal lain di luar itu tidak ada. Seingat saya di ruangan saya tidak pernah. Sama, saya juga sama-sama disumpah (sebelum memberikan keterangan)," kata Partahi saat bersaksi, Senin (19/12/2016).
(dhn/tor)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed