"Kita akan pindahkan taruna tingkat 1 ke Mauk, Tangerang setidaknya untuk memutus mata rantai kekerasan," kata Arifin di kantornya, Jalan Marunda Makmur, Cilincing, Jakarta Utara, Senin (16/1/2017).
Rencana pemindahan taruna ini akan dibahas bersama kepala Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Tangerang. Sebab sarana dan prasarana di BP2IP tidak selengkap di STIP, karenanya dibutuhkan waktu untuk penataan fasilitas kegiatan belajar mengajar.
"Insya Allah minggu depan sudah selesai. Tinggal menata tempatnya, ruangannya. Kan di sana tidak lengkap seperti di sini, jadi harus ditata dulu. Karena kan sama-sama di bawah kita (STIP, red), (dibawah) BPSDM dan Kementerian Perhubungan," papar Arifin.
Belum dapat dipastikan waktu pemindahan taruna tingkat 1 STIP yang berjumlah 338 siswa ini. Arifin menyebut taruna tingkat 1 bisa kembali ke STIP jika dianggap kondisinya sudah normal pasca penganiayaan yang menewaskan Amirullah Adityas Putra.
"(Lama pindahnya) Tergantung. Kita lihat sikonnya. Setelah kondusif baru kita dikembalikan. Tapi minimal setelah tingkat 2, praktik berlayar, akan kembali lagi ke sini," ujarnya.
Penganiayaan terhadap Amirullah dilakukan para seniornya di gedung Dormitory 4 kamar DM-205 lantai 2, Selasa (11/1). Selain Amirullah, ada korban lainnya yang juga jadi korban penganiayaan di ruang ganti atau loker saat dilakukan tradisi serah-terima alat musik drum band.
Polisi menetapkan 5 taruna STIP sebagai tersangka yakni Sisko Mataheru, Willy Hasiholan, Iswanto, Akbar Ramadhan, dan Jakario. Pada Jumat (13/1). Belakangan STIP memutuskan memberhentikan 4 taruna dan 1 taruna lainnya dinonaktifkan.
Selain itu, polisi juga sudah memeriksa Kepala Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Weku Frederik Karuntu yang dinonaktifkan karena kasus kematian Amirullah. Weku mengaku diperiksa soal standard operational procedure (SOP) pengawasan di sekolah tersebut. (jbr/fdn)











































