"Kan kalau kemarin waktu pemilihan kita menggunakan tatib (tata tertib) tahun 2016, berarti masa jabatan 2,5 tahun dilantik dari anggota ya sekitar Maret 2017. Nanti bagaimana mekanisme selanjutnya bagaimana internal DPD," ujar Ketua DPD Mohammad Saleh saat dihubungi detikcom, Senin (16/1/2017).
Saleh sendiri mengaku belum tahu apakah dia akan maju dalam kontestasi pimpinan DPD. "Saya walahuallam intinya prinsipnya kalau kawan-kawan mempercayakan mungkin akan jadi pertimbangan," kata dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya melihat kinerja saya sampai Maret. Perjuangan MD3 ini bukan soal pimpinan di MPR ya tapi taat pada amar putusan Mahkamah Konstitusi tidak digubris saya juga kerja mesti punya target yang baik bagi lembaga, masyarakat. Kalau hanya jadi pimpinan DPD enggak ada kinerjanya ya saya juga enggak mau ini amanah anggota dan rakyat Indonesia. Untuk apa jabatan kalau tidak memiliki kinerja dan manfaat," jelas dia.
Lantas siapa calon yang dianggap saingan berat?
"Kalau saya mah enggak, siapa saja yang pimpin DPD kalau lembaga baik, setara DPR, memperjuangkan aspirasi masyarakat siapa aja. Kalau menurut saya enggak terlalu harus saya," kata Saleh.
Ketika ditanya kemungkinan Ketua Umum Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) menjadi salah satu saingannya, Saleh menjawab diplomatis. Menurut dia siapapun bisa mencalonkan dirinya.
"Oh enggak tahu saya, ya mungkin saja, semua orang punya hak dong. Kalau mengikuti tatib 2016 semua bisa mencalonkan dari wilayah masing-masing," beber dia.
Dia berpendapat siapapun yang menjadi pemimpin DPD harus berjuang demi kepentingan rakyat Indonesia. Dia tidak keberatan bakal dipimpin senator lain.
"Yang penting satu DPD harus punya kewenangan jelas dan berguna bagi rakyat Indonesia. Siapa yang mau mimpin saya setuju saja. Saya setuju 100 persen enggak harus saya, saya mengatarkan DPD untuk bisa sampai situ cukuplah," pungkasnya.
(ams/imk)











































