Ceritanya, Nenek Tinah adalah perempuan tua yang hidup dari pekerjaan sebagai Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) alias pasukan oranye di Gelora Senayan, Jakarta.
Namun, karena ada proses baru, perlu ada seleksi ulang. Ternyata Nenek Tinah tak lolos seleksi ulang tersebut. Berhentilah dia sebagai pasukan oranye.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya belum dapat informasi soal itu," ujarnya.
Pria yang akrab disapa Soni itu menyatakan bahwa hal yang menyangkut PHL sudah diatur oleh peraturan gubernur. Namun dia meminta agar peraturan itu dilaksanakan lebih luas.
"Tapi kalau bekerjanya sudah lama, tolong ada kebijaksanaan lagi sebaik-baiknya sejauh mereka bekerja dengan baik," imbuhnya.
Seiring dengan cutinya Ahok sebagai gubernur, sejumlah kebijakan baru pun bergulir di DKI. Salah satunya seleksi ulang anggota pasukan oranye pada Januari ini.
Mengenai seleksi ulang itu, Soni menyatakan ada kesalahan persepsi. Dia menyebutkan seleksi ulang dilakukan untuk menguji kapasitas para pekerja, bukan untuk mengganti mereka dengan pekerja baru.
"Ada sedikit persepsi yang salah. Jika masih memenuhi syarat dan kalau kinerjanya baik, tes ulang itu untuk menguji kapasitas mereka. Bukan berarti ada tes ulang, semuanya harus baru," papar Soni.
Dia pun akan menindaklanjuti aduan-aduan dari PHL yang tidak direkrut karena adanya alasan tidak masuk akal selama perekrutan. Dia meminta Kadis Kebersihan DKI Jakarta segera melakukan investigasi.
"Saya minta Kadis Kebersihan turun ke bawah. Dapat aduan, banyak PHL yang bekerja sudah belasan tahun tapi tidak bisa direkrut karena ada alasan tidak masuk akal, misalnya harus bisa main futsal," ucapnya.
"Itu kita tertibkan. Kadis akan segera dimintai laporan soal kejadian aneh yang dilakukan sekretaris kelurahan. Rekrutmen itu kan di kelurahan," pungkas Soni. (dnu/dnu)










































