Malaria Serang Pulau Gorom, 18 Orang Meninggal

Malaria Serang Pulau Gorom, 18 Orang Meninggal

- detikNews
Selasa, 12 Apr 2005 17:51 WIB
Ambon - Wabah malaria menyerang warga dusun Wawasa Desa Amarsekaru Kecamatan Kepulauan Gorom Kabupaten Seram Bagian Timur. Hingga Selasa (12/4/2005), 18 orang warga dinyatakan meninggal. Sementara jumlah penderita mencapai 756 warga atau setengah lebih dari total penduduk dusun Wawasa, 1.209 jiwa. Melihat kondisi ini, Dinas Kesehatan Provinsi Maluku langsung menetapkannya sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). "Kami memang menetapkannya sebagai KLB karena korban terus bertambah dan jumlah penderita kian meningkat," ujar dr Justini Pawa, kepada detikcom.Menyikapi kasus ini, kata Justini, sejak 31 Maret lalu, Dinas Kesehatan Provinsi Maluku langsung menerjunkan Tim Gerak Cepat (TGC) KLB guna malakukan penyidikan dan penanggulangan KLB Malaria di Dusun Wasasa. Selama sembilan hari, tim ini berusaha melakukan penanggulangan secara cepat dan tepat serta melakukan penyidikan Epidemiologi dan Entomologi untuk mengetahui distribusi kasus menurut waktu, tempat dan orang serta vektor dan tempat perindukannya. Berbagai kegiatan penanggulangan pun dilakukan. "Jadi kami bekerja selama sembilan hari untuk menanggulangi wabah malaria itu," ujar dia.Dibantu petugas Puskesmas Amarsekaru, kata Justini, pihaknya langsung bergerak melakukan pemeriksaan dengan mengunakan RDT (Rapid Diagnostic Test) terhadap 123 penderita yang datang ke pos pelayanan. Hasil pemeriksaan diperoleh 90 penderita plasmodium falciparum (Pf) dan tiga orang penderita plasmodium vivax (Pv). Untuk mengantisipasi serangan kedua plasmodium ini pengobatan pun dilakukan mengunakan klorokuin dan primakuin.Di lain sisi, lanjut Justini, tim juga melakukan aksi penyemprotan terhadap 171 rumah penduduk (IRS) dan pengasapan di luar rumah, pemberian Altosit di tempat perindukan nyamuk (lagun), penangkapan nyamuk dan penyuluhan kepada masyarakat.Selama empat hari tim gerak cepat ini mengantisipasi dan mencegah bertambahnya korban jiwa, Sabtu (9/11) lalu bersama tim penanggulangan KLB pusat melakukan kunjungan rumah dan pengobatan terhadap penderita dengan menggunakan obat ACT bagi penderita Pf dan mix setelah diperiksa dengan RDT. Selain itu tim juga memberikan kelambu bagi keluarga yang memiliki ibu hamil dan bayi serta penyuluhan kepada masyarakat.Setelah sembilan hari lamanya tim gerak cepat ini bekerja, sejak Senin (11/4) lalu tim sudah kembali ke Ambon dan langsung melaporkan hasil investigasi dan penanggulangan KLB Malaria kepada Gubernur Maluku, Alberth Karel Ralahalu.Dalam laporan yang ditandatangani Kepala Sub Dinas PPM-PL, Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, dr Justin Pawa, M. Kes dan tim gerak cepat KLB, Ch. Siahaya, L. Mustamu dan Daud Samal, SKM, tercatat jumlah korban malaria di dusun Wawasa bertambah menjadi 18 orang. Angka ini berambah sejak Minggu kedua April, dimana dua warga dusun Wawasa tak tertolong jiwanya. Sementara total korban yang terserang wabah malaria mencapai 765 orang. Sehingga diketahui jumlah serangan atau Attack Rate mencapai 63,3 persen. Sementara CFR mencapai 2,4 persen.Laporan tim investigasi ini juga memuat hasil penyelidikan tim gerak cepat yang menemukan bahwa lingkungan kimiawi lokasi kejadian mengandung salinitas sebesar 20 persen.Sementara pada lingkungan biologiknya pun ditemukan adanya tumbuhan lumut di lagun yang sangat berpengaruh terhadap proses kehidupan larva nyamuk.Dari sisi sosial budaya masyarakat, ternyata sudah menjadi kebiasaan masyarakat untuk keluar rumah di malam hari untuk melakukan aktivitas memancing ikan dilagun tempat perindukan nyamuk. Hal inilah yang memungkinkan adanya gigitan nyamuk anopheles. Selain didukung dengan minimnya pengetahuan masyarakat terhadap penyakit malaria.Kendati penanggulangan dilakukan tim gerak cepat KLB ini, namun berbagai kendala turut dirasakan, misalnya, ditemukannya penderita yang tidak seluruhnya minum obat. Di lain pihak, kondisi sosial ekonomi yang rendah mengakibatkan status gizi kurang baik sehingga rentan terhadap infeksi dan meningkatkan risiko kematian akibat penyakit infeksi. Hal lain yang paling signifikan berpengaruh adalah kurangnya fasilitas sarana kesehatan dan tenaga di Puskesmas di desa Amarsekaru. (nrl/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads