Dinamika Pilgub DKI

Ahok Hadiri Bedah Buku 'A Man Called Ahok' di Duren Sawit

Bisma Alief Laksana - detikNews
Senin, 16 Jan 2017 11:32 WIB
Cagub DKI Ahok menghadiri bedah buku 'A Man Called Ahok' di Duren Sawit. (Bisma Alief/detikcom)
Jakarta - Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hari ini menghadiri acara bedah buku 'A Man Called Ahok' di Balai Pertemuan Umum (BPU) Ruma Gorga Mangampu Tua 2, Jalan H Kamad, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur. Selain Ahok, hadir dalam bedah buku ini selebriti Titi Rajo Bintang.

Penulis buku 'A Man Called Ahok', Rudi Valinka, yang juga pemilik akun Twitter @kurawa, pun memaparkan kisah soal alasan di balik penulisan buku tersebut. Menurut Rudi, dia mau menulis buku soal Ahok karena ingin melakukan tabayun (klarifikasi) soal kehidupan Ahok. Awalnya, dia hanya penasaran apakah benar Ahok sudah menistakan agama sejak dulu.

Hal tersebutlah yang membuat Rudi langsung ke kampung halaman Ahok, Belitung Timur. "Dalam Islam, ada tabayun, itu sangat penting di negara ini. Pas kasus di Kepulauan Seribu, saya langsung tabayun. Ahok ngomong, kalau dia nggak ada niat menistakan agama, saya nggak langsung percaya. Makanya saya langsung berpikir ke Belitung supaya saya percaya," kata Rudi di lokasi bedah buku, Senin (16/1/2017).

"Di Belitung saya 3 hari 3 malam, saya bertemu langsung orang-orang yang berhubungan dengan Ahok," lanjutnya.

Rudi berharap bukunya tersebut bisa membuka mata orang-orang yang selama ini benci Ahok karena kasus dugaan penistaan agama. Apalagi mayoritas warga Jakarta sebenarnya puas atas kinerja Ahok selama memimpin Jakarta.

"Ada tiga kekuatan dalam buku ini, pertama, ada narasi; kedua, gambar; dan ketiga, klarifikasi. Jadi kalau ada orang yang nggak percaya, di dalam buku ini ada foto-foto orang yang memberikan testimoni soal Ahok," ujarnya.

Menurutnya, karakter Ahok yang ceplas-ceplos cenderung keras dan antikorupsi merupakan didikan dari bapaknya. Rudi mengatakan, saat Ahok kecil, bapaknya sering menyuruh Ahok bersembunyi bila sedang ada tamu. Hal tersebut dilakukan agar bisa mendengarkan pembicaraan bapaknya dengan tamu tersebut.

"Ini yang buat Ahok di ruang kerjanya di Balai Kota nggak ada sekat. Dia ketemu tamu di ruangan yang banyak anak magangnya, belum lagi CCTV di mana-mana. Itu biar nggak ada fitnah," tuturnya.

"Ahok terbentuk karena konsep parenting-nya dari bapaknya. Sehingga buku ini bisa dicontek cara parenting-nya sehingga akan banyak Ahok-ahok baru yang lahir," tutupnya. (bis/erd)