"Pada saat identifikasi korban, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan terhadap tubuh korban," kata Kanit Reskrim Polsek Kebon Jeruk AKP Andryanto Randotama saat dihubungi detikcom, Senin (16/1/2017).
Menurut Andryanto, ada kemungkinan korban bunuh diri karena tidak kuat mengalami sakit. Hal itu sudah dikatakan korban kepada pihak keluarga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun polisi belum mengetahui penyakit yang diderita korban. "Kondisinya sedang tidak mendukung, (keluarganya) sedang berduka," kata Andryanto.
Sebelumnya, Maseah dilaporkan menghilang pada Sabtu (14/1). Kemudian polisi menemukan Maseah di tempat tampungan air di depan rumahnya di Jl Mangga 17, Kelurahan Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Keluarga: Maesah Pernah Minta Disuntik Mati
Menurut laporan keluarga, Maesah menghilang sejak hari Jumat (13/1) pagi. Lalu, sepupu korban, menemukan korban pada Minggu (15/1), sekitar pukul 21.00 WIB di tempat penampungan air.
Bak penampung air tertanam di bawah tanah. Bak dengan kedalaman 170 cm itu ditutup dengan pintu besi. Bak diletakan di dekat pintu masuk rumah.
Sebelum meninggal, korban dirawat di Rumah Sakit Pelni selama satu minggu. Korban mengeluh pegal, panas, dan selalu gelisah.
"Kamis (12/1) baru pulang dari rumah sakit. Namun, dokter mengatakan tidak ada penyakit apapun," kata Adik ipar korban, Santoso (50), kepada wartawan, di rumah duka di Jl Mangga 17, Kelurahan Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Foto: Bak tampung air lokasi penemuan jasad Maesah (Arief-detikcom) |
Santoso juga menjelaskan, almarhum pernah menderita diabetes. Namun, kondisinya sudah membaik.
"Luka di kaki, terus lama-lama membusuk. Kalau nggak salam diabetes. Setahun lalu sudah sembuh," kata Santoso.
Selama sekitar satu bulan, korban selalu mengeluh sakit. Maesah juga tidur tidak tenang dan sempat putus asa.
"Malah pernah minta ke dokter untuk disuntik mati," kata Santoso.
(aik/rvk)












































Foto: Bak tampung air lokasi penemuan jasad Maesah (Arief-detikcom)