Di atas sebuah panggung berukuran kurang lebih 10 meter x 5 meter, Ahok membacakan sebuah puisi karya Mustofa Bisri atau yang lebih dikenal Gus Mus. 'Negeriku' menjadi judul puisi yang dipilih Ahok untuk ditampilkan di depan puluhan orang.
"Negeriku... Mana ada negeri sesubur negeriku. Sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tehu dan jagung tapi juga pabrik, tempat rekreasi dan gedung," ucap Ahok yang diiringi petikan akustik gitar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aku cari, aku suka. Gus Mus ini kritik sosial. Kalau lagu itu kayak Iwan Fals. Aku suka, tapi kalau Gus Mus bacanya lebih bagus lagi, tapi aku nggak bisa niru," kata Ahok usai mempersembahkan penampilan itu di Soehanna Hall, SCBD, Jakarta Selatan, Sabtu (14/1/2017) malam.
Ahok mempersembahkan penampilannya itu di depan puluhan pekerja seni yang tergabung dalam masyarakat kreatif, digital, dan perfilman. Acara itu dikemas dalam talkshow yang juga dihadiri oleh 2 cagub lainnya.
Ahok memilih menampilkan pembacaan puisi itu usai dirinya melakukan pemaparan dan bincang-bincang bersama peserta talkshow. Lalu, apa makna puisi itu bagi Ahok?
"Kalau puisi itu kan harus kita bicara buat kita. Kalau kita nggak bicara buat kita itu puisi cuma bacaan. Nggak ada rohnya, puisi itu ada rohnya kalau dilakukan dengan hati, jadi yang dengar juga rasakan," ungkap Ahok. (kst/dhn)











































