2 Ekstrakurikuler STIP Dibekukan, Menhub: Agar Ada Rasa Menyesal

2 Ekstrakurikuler STIP Dibekukan, Menhub: Agar Ada Rasa Menyesal

Galang Aji Putro - detikNews
Jumat, 13 Jan 2017 19:14 WIB
2 Ekstrakurikuler STIP Dibekukan, Menhub: Agar Ada Rasa Menyesal
Para tersangka penganiayaan taruna STIP (Nugroho Tri Laksono/detikcom)
Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi membekukan 2 kegiatan ekstrakurikuler Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), yakni drum band dan pedang pora. Keputusan ini diambil agar tindak kekerasan tidak terulang kepada taruna junior.

Budi mengaku kecewa atas kejadian penganiayaan yang mengakibatkan taruna tingkat I STIP, Amirullah Adityas Putra, meninggal dunia.

"Dari identifikasi, 2 kegiatan itu satu sisi jadi kebanggaan mereka, tapi juga jadi sarana perploncoan. Kita bekukan 2 kegiatan itu agar ada rasa menyesal secara kolektif," ujar Budi di Ruang Nanggala, Gedung Kementerian Perhubungan, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (13/1/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Budi menyebut langkah pembekuan sebagai proses edukuasi kepada siswa agar tidak melakukan penyimpangan, seperti perploncoan, yang disertai tindak kekerasan.

"Saya sempat ke sekolah transportasi di Semarang dan Surabaya. Ada penggantian kegiatan yang membuat mereka berkompetisi secara sehat, entah itu naik gunung atau melalui kegiatan seni," imbuhnya.

 Jumpa pers Menhub Budi Karya Sumadi mengenai kasus penganiayaan taruna STIP, Jumat (13/1/2017) Jumpa pers Menhub Budi Karya Sumadi mengenai kasus penganiayaan taruna STIP, Jumat (13/1/2017) Foto: Galang Aji Putro/detikcom


Sementara itu, Kepala BPSDM Perhubungan Wahju Satrio Utomo mengatakan pihaknya menyerahkan proses hukum kepada pihak kepolisian. Pihaknya berjanji kooperatif membantu penanganan kasus di kepolisian.

"Menyangkut hukum diserahkan ke polisi. Ke depan, menghentikan kegiatan drum band dan pedang pora di STIP hingga kondusif. Ini adalah alasan kekerasan," ujar Utomo.

Utomo juga melarang para taruna menggunakan penyebutan senior dan junior. Ini dilakukan untuk menghilangkan budaya senioritas. Pihaknya juga akan mengadakan tes psikologi bagi taruna dan para pengasuh STIP.

"Nanti penyebutannya kakak kelas dan adik kelas. Minggu depan juga akan ada tes psikologi, biar tahu tetap layak untuk dipertahankan untuk pengasuh. Untuk taruna, dievaluasi soal kestabilan kejiwaan. Nanti ditangani secara khusus secara konseling," jelasnya.

Penganiayaan terhadap Amirullah dilakukan para seniornya di gedung Dormitory 4 kamar DM-205 lantai 2, Selasa (11/1). Selain Amirullah, ada taruna lain yang menjadi korban penganiayaan di ruang ganti atau loker saat dilakukan tradisi serah-terima alat musik drum band.

Polisi kemudian menetapkan 5 taruna STIP sebagai tersangka, yakni Sisko Mataheru, Willy Hasiholan, Iswanto, Akbar Ramadhan, dan Jakario. Pada Jumat (13/1), kelima tersangka menjalani tes urine di ruang kesehatan dan kedokteran di Mapolres Jakarta Utara, Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok.

(fdn/fdn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads