DetikNews
Kamis 12 Januari 2017, 23:54 WIB

KPK Dalami Dugaan 2 Hakim PN Jakpus Ikut Terima Suap SGD 28 Ribu

Haris Fadhil - detikNews
KPK Dalami Dugaan 2 Hakim PN Jakpus Ikut Terima Suap SGD 28 Ribu Foto: Jubir KPK Febri Diansyah/ Jabbar detikcom
Jakarta - KPK akan mendalami keterlibatan dua hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) dalam kasus dugaan suap Panitera pengganti PN Jakpus, Santoso. Namun, saat ini KPK masih menunggu proses pengadilan berikutnya.

"Pendalaman tentu saja akan kami lakukan. Namun, kami masih menunggu dua tahapan lagi, satu pledoi, yang kedua putusan pengadilan kami akan pelajari lebih jauh," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di Kantor KPK, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (12/1/2016).

KPK berharap pertimbangan hakim dalam memutus perkara ini nantinya. Menurut Febri hakim harus cermat memperhatikan fakta-fakta yang muncul dalam persidangan termasuk unsur penyertaan dalam perkara ini.

"Pertimbangan-pertimbangan hakim dalam putusan kami harap memang hakim secara cermat memperhatikan fakta-fakta yang muncul di persidangan. Termasuk juga lebih melihat secara lebih dalam terkait dengan unsur-unsur penyertaan di dalam perkara ini," jelasnya.

Pendalaman dugaan keterkaitan dua hakim itu juga nantinya akan dilakukan sepanjang ada informasi dan bukti yang cukup. Meskipun saat ini menurut KPK dalam persidangan sudah terdapat fakta yang kuat untuk melanjutkan pendalaman perkara.

"Menurut KPK, terutama menurut penuntut yang memproses kasus ini sejak awal mulai dari dakwaan sejumlah fakta persidangan sebenarnya cukup kuat. Namun, kami harus mendengar pihak lain dan juga membaca kembali, mempelajari kembali putusan hakim nantinya," papar Febri.

"Jadi memang kami perlu dua tahap lagi untuk bisa sampai pada proses berikutnya dan pendalaman-pendalaman tentu akan kami lakukan sepanjang informasi yang kami miliki cukup dan bukti yang kami miliki cukup kuat sesuai dengan persyaratan undang-undang yang ada," lanjutnya.

Febri juga menambahkan penuntut yakin adanya indikasi perbuatan yang dilakukan secara bersama-sama oleh Santoso dengan dua hakim PN Jakpus. Kedua hakim yang diduga terlibat itu adalah Partahi Tulus Hutapea dan Casmaya.

"Terdapat indikasi-indikasi pertemuan dan komunikasi di mana penuntut yakin bahwa ini adalah perbuatan bersama-sama yang diduga bersama hakim yang telah disebutkan di tuntutan tersebut. Sehingga kami berikutnya akan mendalami penanganan perkara ini termasuk kemungkinan mengembangkan perkara ini," ujar Febri.

Sebagai informasi, Santoso diduga menerima uang sejumlah SGD 28 ribu dalam dua amplop. Amplop pertama bertuliskan HK dengan isi uang SGD 25 ribu, dan amplop kedua bertuliskan SAN dengan isi uang SGD 3 ribu. Menurut jaksa, ada penyertaan diam-diam antara Santoso dan Partahi serta Casmaya terkait penerimaan uang tersebut.

"Perbuatan terdakwa tidaklah berdiri sendiri kecuali bersama-sama dengan orang lain, yaitu saksi Partahi Tulus Hutapea dan saksi Casmaya, yang mana berdasarkan fakta persidangan terlihat dengan jelas adanya penyertaan secara diam-diam," tutur Jaksa Takdir Suhan saat membacakan surat tuntutan di Pengadilan Tipikor, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (11/1) kemarin.

"Di mana dalam mewujudkannya telah ada saling pengertian antara terdakwa Santoso dengan saksi Partahi dan saksi Casmaya," imbuhnya.

Duit sejumlah SGD 28 ribu yang diduga diterima Santoso itu berasal dari pengacara Raoul A Wiranatakusumah melalui Ahmad Yani. Uang tersebut disebutkan jaksa diberikan agar Santoso bersama-sama dengan hakim Partahi Tulus Hutapea dan Casmaya memenangkan perkara yang sedang ia tangani.

Perkara yang dimaksud adalah perkara antara PT Mitra Maju Sukses melawan PT Kapuas Tunggal Persada (KTP). Raoul merupakan pengacara dari PT KTP.

Putusan perkara dibacakan pada 30 Juni 2016. Gugatan PT MMS dinyatakan tak dapat diterima. Raoul tidak begitu puas karena awalnya dia ingin gugatan PT MMS ditolak. Akan tetapi, Raoul tetap memberikan uang SGD 28 ribu yang diminta Santoso di hari yang sama.
(HSF/elz)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed