"Untuk sementara, kegiatan polisi sudah melaksanakan cek ulang dan rekonstruksi untuk pemeriksaan kasus pengeroyokan ini," kata Kapolresta Denpasar Kombes Hadi Purnomo di kantornya, Denpasar, Bali, Kamis (12/1/2017).
Hadi menambahkan, pihak kepolisian juga akan memeriksa izin operasional La Favela. Jika ditemukan pelanggaran, Polda Bali akan mengirimkan rekomendasi ke Pemkab Badung untuk menutup tempat hiburan malam itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiga pelaku penganiayaan WNA yang ditangkap polisi dihadirkan dalam jumpa pers (David Saut/detikcom) |
Peristiwa pengeroyokan ini dipicu masalah tagihan pesanan minuman sebesar Rp 680 ribu yang tidak mau dibayarkan Argam. Dia akhirnya dikeroyok sekuriti bar dan mengalami luka parah. Mata sebelah kanannya diduga mengalami buta permanen. Untuk proses penyidikan, polisi telah memasang garis polisi di La Favela.
"La Favela sementara ditutup untuk kegiatan penyidikan hingga kita gelar rekonstruksi di TKP. Belum bisa ditentukan berapa lama (ditutup untuk penyidikan)," ucap Hadi.
Kombes Hadi juga menyebutkan, dari hasil pemeriksaan sementara, selain menjadi sekuriti bar, para pelaku merupakan anggota salah satu ormas di Bali. Dia pun mengingatkan para pengusaha tempat hiburan, sebaiknya tenaga sekuriti berasal dari satuan pengamanan yang telah dibina oleh kepolisian.
"Sekuriti dari La Favela anggota salah satu ormas di Bali. Dia ingin jalur cepat untuk usahanya sehingga dia tidak ada kerja sama dengan Direktorat Humas Polda Bali. Sehingga jadilah diambil preman-preman ini. Kita imbau kepada seluruh pimpinan perusahaan, kalau bisa, bekerja sama dengan Direktorat Humas Polda Bali untuk pengambilan satuan pengamanan jalur resmi sehingga tidak terulang kembali kejadian seperti ini," imbuhnya.
Kasus pengeroyokan ini menjadi viral di Facebook pada Rabu (11/1) kemarin. Salah satu teman korban bernama Denis mengunggah peristiwa pengeroyokan ini sehingga netizen ramai memberikan respons menuntut kasus ini diusut hingga tuntas.
Polda Bali Tingkatkan Patroli
Kabid Humas Polda Bali AKBP Hengky Widjaja menyatakan polisi akan melakukan survei dan mengecek kualitas keamanan tempat-tempat hiburan di Bali. Polisi tidak ingin kasus pengeroyokan WNA seperti yang terjadi di bar La Favela Bali terulang.
"Ke depan, akan kita intensifkan satuan-satuan kerja sebagai langkah preventif dan represif," kata Hengky di Denpasar, Bali, Kamis (12/1/2017).
Hengky menjelaskan peningkatan pengamanan yang dilakukan berupa patroli, pengamanan objek vital, dan pembinaan masyarakat. Polda Bali juga akan melakukan pemeriksaan kualitas keamanan dan kenyamanan di tempat hiburan.
"Komunikasi dengan owner dan sampling kualitas dari pengunjung terkait keamanan dan kenyamanan. Sehingga, harapannya ke depan tidak terjadi lagi hal serupa dan sekuriti tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi lagi hal serupa," imbuh Hengky.
Polda Bali juga akan berkoordinasi dengan Pemkab Badung dan Pemprov Bali untuk meminimalkan gangguan apa saja yang mengancam pariwisata Bali. Hengky lalu menegaskan agar tempat hiburan di Bali tidak menggunakan jasa ormas untuk keamanan operasional.
"Kita akan tertibkan keamanan di kawasan wisata. Paling tidak menggunakan jasa keamanan warga desa setempat, atau sekuriti profesional dan tidak anggota ormas," ucap Hengky.
"Ingat, penekanan Kapolda Bali (Irjen Pol Petrus R Golose) salah satunya itu anti-premanisme. Preman jangan sampai mengatur negara atau aparat jangan kalah sama preman. Ke depan, masyarakat adat akan lebih kita bangun," sambungnya menegaskan. (hri/tor)












































Tiga pelaku penganiayaan WNA yang ditangkap polisi dihadirkan dalam jumpa pers (David Saut/detikcom)