Tanah Warga Korban Tsunami Diukur Ulang dengan Satelit
Selasa, 12 Apr 2005 13:42 WIB
Banda Aceh -
Tanah warga yang terkena dampak tsunami di seluruh wilayah Aceh kembali diukur ulang dengan menggunakan Global Positioning System (GPS), sebuah alat yang bekerja dengan bantuan satelit untuk menentukan titik koordinat tanah warga yang sudah tak dikenali lagi batasnya. Sedikitnya, 350 ribu bidang tanah milik warga akan diukur ulang dengan alat ini."Dengan bantuan alat ini, kita usahakan dapat mengukur kembali batas tanah warga yang hilang akibat tsunami sekitar 100 bidang perharinya. Kami melakukan pengukuran ulang di bidang-bidang tanah yang sudah ditandai oleh warga yang sudah melaporkan perkiraan batas tanah mereka," terang Syamsul Bahri, supervisi dari PT Almega Geo Systems, pada wartawan, Selasa (12/4/2005) di Desa Bitai, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Syamsul Bahri bersama beberapa staf dari BPN NAD sedang melakukan pengukuran ulang tanah warga di kawasan tersebut. Mereka tergabung dalam Tim Rekonstruksi NAD-BPN.Menurut Syamsul Bahri, GPS terdiri dari dua alat yang terdiri dari base station dan rover. Kedua alat ini mengacu pada satelit untuk mendapatkan titik koordinat lintang, bujur dan elevasi dengan datum WGS di titik 84, yang merupakan standar internasional."Jadi kita berangkat dari titik koordinat dari data yang kita miliki sebelum tsunami. Sehingga pengukuran tanah warga akurat, dan jelas batas-batasnya. Misalnya jika tanah mereka itu kita sudah menjadi bagian dari laut. Jadi mengembalikan batas-batas yang sekarang sudah tidakjelas lagi. Pengukuran dengan bantuan alat ini memperkecil tingkat kesalahan batas tanah," lanjutnya.Pasalnya, kata Syamsul, alat ini bekerja secara real time, dengan model Real Time Kinematic (RTK). Artinya, secara realtime di lapangan, kesalahan titik atau batas tanah dapat segera dikorekasi.Selain itu, Total Station, sebuah alat lainnya yang juga digunakan untuk pengukuran ulang tanah warga. Alat ini lebih untuk menentukan jarak dan sudut. "Karena masing-masing alat memiliki keterbatasan dan untuk mempercepat kinerja kita," tambahnya.Untuk wilayah Banda Aceh, setengah dari wilayah kota kini nyaris tak bisa lagi dikenali batas-batas tanah warga secara pasti. Selain sudah semakin menjoroknya bibir pantai ke daratan, rumah warga yang hancur dan kadang-kadang tak menyisakan sedikitpun bangunan yang dulu pernah ada di tanah tersebut, membuat warga sering kebingungan untuk menentukan batas tanah milik mereka.
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































