"Nanti itu ada lift semua, ada eskalator dan nggak seekstrem itu. Akan dibangun eskalator. Cuma kembali ini kan Pemprov, bukan swasta. Kalau swasta kita jadi satu, dan bulan Juni (TransJ koridor 13 beroperasi-red) kok, masih ada waktu," jelas Dirut PT Transportasi Jakarta Budi Kaliwono.
Hal itu dikatakan Budi di sela-sela rapat kerja teknis Koordinasi dan Sinkronisasi Pengembangan Transportasi Terintegrasi Jabodetabek TA 2017 di Hotel Best Western Premier, Jl DI Panjaitan, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (11/1/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tunggu jalan keluarnya, kami akan pikirkan. Misalnya kita mau ke Senen, dari Pulogadung turun di Matraman, pindah langsung masuk (koridor) 13 juga bisa. Kalau dari Blok M, saya mau dari arah bawah tuh (halte) CSW, saya mau ke Ciledug, saya tidak perlu naik tangga, saya bisa naik bus yang ke arah Tendean, dari Tendean pindah halte, dari situlah bisa naik langsung ke Ciledug. Yang tadi istilahnya ada rekayasa-rekayasa ini, bisa kita lakukan," jelasnya.
Halte TransJakarta koridor 13 Ciledug-Tendean dinilai tak ramah pengguna. Letak halte yang terlalu tinggi dan tangga yang terlalu curam dinilai jadi titik masalahnya.
Halte tersebut mendapatkan sorotan dari pegiat tata kota Elisa Sutanudjaja. Menurutnya, halte yang berlokasi dekat dengan Kejaksaan Agung tersebut tak ramah pejalan kaki, bahkan bagi penyandang disabilitas.
Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Yusmada Faizal menampik anggapan bahwa koridor 13 TransJakarta tidak ramah bagi disabilitas. Yusmada mengatakan nantinya halte tersebut juga akan dilengkapi oleh fasilitas untuk penyandang disabilitas. Eskalator sudah disiapkan untuk lansia dan ibu hamil. Bagi penyandang disabilitas, Pemprov DKI punya ancang-ancang untuk melengkapi koridor 13 dengan lift. (nwk/fdn)











































