"Sudah pernah (terjadi sebelumnya). Tentunya ini kejadian yang terjadi lagi. Kami akan berkoordinasi dengan pihak sekolah tersebut agar mengubah sistem berkaitan pembinaan tradisi maupun pembinaan fisik oleh seniornya," jelas Iriawan kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (11/1/2017).
Total ada lima tersangka terkait penganiayaan Amirullah dan lima orang taruna junior lainnya. Empat orang tersangka di antaranya duduk di tingkat II STIP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari laporan kapolres sementara, juniornya sedang akan menerima pembinaan fisiklah oleh mereka (senior). Sehingga terjadi penganiayaan hingga mengakibatkan meninggal dunia. Yang jelas hari ini sedang dilakukan pemeriksaan," terang Iriawan.
Dugaan penganiayaan terjadi pada Selasa (10/1) malam. Korban bersama lima temannya malam itu diminta para pelaku untuk datang berkumpul di gedung Dormitory 4 kamar M205 lantai 2.
"Salah satu pelaku meminta (juniornya) untuk berkumpul di TKP (tempat kejadian perkara) gedung Dormitory 4 kamar M205 lantai 2 untuk memanggil para junior. Yang datang berenam, termasuk korban," kata Awal kepada wartawan di Mapolres Jakarta Utara, Rabu (11/1).
Ada lima orang pelaku yang melakukan penganiayaan terhadap enam orang juniornya termasuk, Amirullah. Namun, menurut Awal, salah seorang pelaku tidak menganiaya Amirullah, melainkan memukuli korban lainnya atas nama Ahmad Fajar.
Para pelaku bergantian memplonco keenam korban. Sementara korban diplonco oleh empat pelaku, yakni Sisko Mataheru, Willy Hasiholan, Iswanto, dan Akbar Ramadhan.
Setelah dipukuli secara bergantian, Amirullah tidak sadarkan diri. Saat itu, para pelaku memberikan minyak angin ke Amirullah, tetapi dia tidak bergerak dan tak kunjung siuman.
Para pelaku kemudian melapor ke taruna tingkat IV dan menceritakan kejadiannya. Sampai akhirnya tim dokter STIP memeriksa korban, dan sekitar pukul 01.45 WIB, Rabu (11/1) dinyatakan meninggal dunia. (mei/fdn)











































