"Khusus mengenai Palestina, kita memiliki dua pilihan, apakah kita akan pasif atau aktif, do nothing or do something, Indonesia chooses to do something," ujarnya di Ruang Nusantara Kemlu, Jl Pejambon, Jakarta Pusat, Selasa (10/1/2017).
"Indonesia tidak akan mundur dalam membantu perjuangan kemerdekaan Palestina," tegasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia akan menggalang sebanyak mungkin dukungan agar penyelesaian "Two State Solution" dapat terealisasi," ujarnya.
Namun ia menjelaskan bahwa jalan yang dihadapi juga tidak mudah. Untuk itu Indonesia mendukung inisiatif konferensi internasional gagasan Perancis.
"Indonesia telah hadir dalam pertemuan di Paris, pada Juni 2016 lalu dan akan hadir dalam pertemuan Januari ini di Paris," jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa sebagai terobosan diplomatik, Indonesia telah membuka konsulat kehormatan di Ramallah dan berencana membuka rumah Indonesia di Palestina. Di tengah keprihatinan dunia atas krisis pengungsi, Indonesia juga maju dengan inisiatif konkret. Ia menyebut bahwa melalui Bali Process, Indonesia menggalang persetujuan negara asal, transit dan tujuan bagi mekanisme konsultasi sebagai respons terhadap situasi darurat migrasi ireguler di kawasan.
"Selain itu, terkait konflik Suriah, Indonesia menjadi satu dari sedikit negara yang terus menjalankan misi diplomatik, baik melalui KBRI Damaskus, maupun kantor konsulat di Aleppo dan Latakia untuk penampungan WNI.
(nkn/van)











































