DetikNews
Senin 09 Januari 2017, 17:33 WIB

Dirjen Hubla: Semua Pelayaran Tradisional Harus Pakai Life Jacket

Jabbar Ramdhani - detikNews
Dirjen Hubla: Semua Pelayaran Tradisional Harus Pakai Life Jacket Dirjen Hubla di Muara Angke (Jabbar/detikcom)
Jakarta - Direktur Jenderal Perhubungan Laut (Dirjen Hubla) Kementerian Perhubungan Tonny Budiono mengatakan, dalam pelayaran tradisional, yang paling penting adalah dipakainya jaket pelampung. Sebab, tugas mewujudkan keselamatan menjadi tanggung jawab semua pihak.

"Tugas keselamatan bukan hanya milik regulator. Tapi juga milik semuanya, termasuk operator pelayaran dan penumpang. Intinya, karena ini pelayaran tradisional, harus pakai life jacket. Kecuali kapal Pelni dan kapal besar," kata Tonny di gedung Pelabuhan Kali Adem Muara Angke, Jakarta Utara, Senin (9/1/2017).

Tonny menyampaikan hal ini ketika memberikan sosialisasi keselamatan pelayaran kepada para pemilik kapal tradisional. Ia menambahkan, operator pelayaran semestinya juga memberikan penjelasan kepada para penumpang bila nantinya ditemui keadaan darurat.

Tonny juga meminta kepada para operator untuk tetap memperhatikan daftar penumpang atau manifes pelayaran. Sehingga data jumlah penumpang dengan manifes yang tercatat di syahbandar juga sama.

"Selain itu juga diarahkan ke mana pintu keluar. Sama seperti di pesawat, bagaimana pramugari memberikan panduan cara memakai pelampung dan menunjukkan jalan darurat untuk keluar," ujar Tonny.

"Manifes juga harus sama dengan jumlah penumpang yang ada di kapal. Jika ada penumpang yang lebih, laporkan ke syahbandar setempat. Agar manifes jumlahnya diketahui," imbuhnya.

Tonny lebih teknis menerangkan, penumpang kapal juga mesti diingatkan soal tata tertib selama pelayaran, seperti larangan merokok selama pelayaran. Ia juga mengingatkan kepada anak buah kapal (ABK) agar tanggap bila ada potensi kebakaran.

"Kalau ditemukan ada tercium bau kebakaran, supaya langsung dicari sumber api di mana. Dan juga tolong penumpang dilarang merokok selama pelayaran. Begitu pula, tolong nakhoda jangan terjun dahulu saat kebakaran. Arahkan dulu penumpang agar semua penumpang aman. Baru terjun ke laut," ucapnya.

Di lokasi yang sama, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah mengatakan, untuk menekan terjadinya kecelakaan, pihak Dishub mensyaratkan kepada kapal untuk tidak berlayar sebelum mengantongi sertifikasi.

"Tapi kita syaratkan, kapal yang berlabuh di sini harus bersertifikasi. Kalau tidak ada, terpaksa keluar dari sini atau tidak bisa bersandar. Ini untuk menjaga keselamatan penumpang," tutur Andri.

Andri mengatakan, saat ini tercatat ada 43 kapal yang menjalankan pelayaran ke Kepulauan Seribu. Ia mengatakan semua kapal telah bersertifikasi.

"Semua kapal sudah bersertifikasi, 43 kapal itu. Hanya saja, ada 5 yang sedang memperpanjang izin," ujar Andri.

Kapal Wisata KM Zahro Express terbakar pada Minggu (1/1) lalu. Mereka berharap kejadian tersebut dapat dijadikan momentum untuk membenahi pengelolaan pelayaran di laut.

"Semoga kejadian terbakarnya Zahro Express jadi momentum kita untuk membenahi semuanya. Benahi armada atau kapalnya, ABK-nya, dermaganya, pelabuhannya," kata Andri.






(jbr/rvk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed